Distro Linux Terinspirasi Oleh Disain Google

Chromixium-alpha_1230x576

Dua distro Linux yang ingin memberikan sentuhan baru pada desktop Linux, secara eksplisit dibangun terinspirasi oleh disain dari Google. Salah satunya adalah Chromixium yang menjadikan Google Chrome OS seperti OS yang ditanamkan pada perangkat Chromebook yang saat ini di Amerika Serikat kian popular, sebagai panutannya.

Continue reading Distro Linux Terinspirasi Oleh Disain Google

Training AOSI #9: Bangun Aplikasi Mobile Gunakan PhoneGap

AOSI Traning # 9 - PhoneGap

Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) kembali menggelar acara Training berkala, dan kali ini berupa pelatihan untuk aplikasi PhoneGap

PhoneGap adalah sebuah kerangka pengembangan aplikasi mobile yang memungkinkan para pengembang untuk membangun aplikasi untuk berbagai perangkat mobile dengan menggunakan JavaScript, HTML5, dan CSS3, sehingga para pengembang tidak lagi harus bergantung pada API khusus untuk platform tertentu seperti iOS atau Android.

Continue reading Training AOSI #9: Bangun Aplikasi Mobile Gunakan PhoneGap

COS: Pemerintah China Sponsori OS Mobile

Cina telah meluncurkan sistem operasi untuk ponsel cerdas (smartphone), tablet, PC dan set-top box yang disponsori pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap monopoli perangkat lunak asing.

China Operating System

Sistem operasi anyar yang diberi nama China Operating System (COS) ini, menggunakan Linux sebagai basis, dan dikembangkan sebagian besar berdasarkan pedoman dari pemerintah yang direliasasikan melalui Chinese Academy of Sciences (ISCAS) dan perusahaan Shanghai Liantong. Perusahaan Taiwan HTC juga disebutkan telah membantu merancang dan menyampaikan bantuan praktis. Sebuah App Store yang saat ini telah dibekali sekitar 100.000 aplikasi, pada kesempatan yang sama juga dibuka secara simultan.

Upaya ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh China untuk mengembangkan sistem mobile nasional, namun sejauh ini belum ada yang mampu bertahan. Percobaan yang paling terkenal mungkin adalah OMS (Open Mobile System) atau OPhone yang diluncurkan China Mobile, operator seluler terbesar di dunia pada tahun 2009 dan telah mati suri sejak 2010. Pada saat ini masih eksis dengan aplikasi yang jumlahnya tidak lebih dari 600.

Bersama peluncuran COS yang diduga dibangun sepenuhnya secara mandiri berdasarkan kode pemrograman Linux, China ingin kali ini, tidak sekedar menangkal ketergantungan terhadap Google dan Apple, melainkan juga untuk menyediakan lokalisasi yang lebih baik, termasuk sistem pengenalan suara dan integrasi yang lebih sempurna. Di sisi lain, pemerintah China nantinya dapat lebih mudah mengontrol konten mobile internet yang diakses masyarakat. Kode sumber COS tidak diungkapkan seperti lazimnya pada sistem open source, dengan dalih keamanan.

Pimpinan Chinese Academy of Sciences, Li Shuming,  menyayangkan bahwa iOS merupakan sistem operasi yang tertutup, sementara Android disebutkan sangat menderita dalam fragmentasi, sedangkan Windows Phone dianggap tidak cukup aman. Kecuali itu, sistem operasi open-source seperti Ubuntu dan Android disebutkan masih belum memenuhi kreteria keamanan yang diinginkan, di mana terdapat beberapa kerentanan tersembunyi yang memungkinkan pihak lain mengontrol perangkat mobile.

COS Tablet

Kendati demikian, menurut portal berita Engadget China, perangkat-perangkat yang dipamerkan pada perhelatan di Beijing tersebut, sangat mirip dengan smartphone dan tablet yang ditenagai Android. Andaikan COS nantinya dapat memikat pengguna di China secara luas, maka sistem operasi ini akan menjadi OS nasional yang kedua disamping UbuntuKylin yang diluncurkan satu tahun sebelumnya.

Google Siapkan Backend Untuk Aplikasi Mobile di Awan

Banyak aplikasi mobile terbaik yang ditenagai oleh layanan dari cloud, seperti halnya disebutkan Pulse dan SongPop yang telah lama menikmati keuntungan berupa kenyamanan dan skalabilitas yang ditawarkan oleh platform awan dari Google. Sekarang Google menambahkannya dengan layanan “Mobile Backend Starter” dengan tujuan untuk lebih memudahkan lagi bila diperlukan memberdayakan layanan awan berupa “cloud services” dalam aplikasi yang akan dikembangkan.

Di ajang konferensi Googles I/O belum lama berselang, telah diungkapkan tentang rencana itu, dan kini direalisasikan berupa ketersediaan dari “Mobile Backend Starter” bebas digunakan untuk publik. Dibalik nama tersebut adalah sebuah Backend yang mendukung aplikasi mobile dan sebuah kerangka kerja atau framework untuk Android di sisi klien yang semuanya ditulis dalam bahasa Java.

google-mobile-backend-arch_640

Penawaran dari Google ini ditargetkan terutama untuk para pengembang yang tidak ingin banyak membuang waktunya untuk menulis sendiri kode pemrograman untuk fitur Backend. Backend Starter terdiri dari sebuah Server, dimana tersimpan Data dengan “App Engine”-nya, termasuk sebuah pustaka dan contoh penggunaanya di Android. Andaikan masih perlu adanya penyesuaian, maka kode sumbernya bisa digali di lumbung pemrogram GitHub.

Kecuali itu, juga dimungkinkan untuk mengintegrasikan fitur “Google Cloud Messaging” dan sebuah mekanisme otentifikasi dari Googles, yang tak hentinya jalan di server berikut pembaruan (update) yang secara otomatis diteruskan ke klien.

Manager Produk Brad Abrams memaparkan dalam blognya, bahwa Mobile Backend Starter disediakan agar produk dapat dibuat mudah hanya dengan klik saja, namun ia tetap menyarankan agar pengguna memeriksa penjelasan tersedia, tentang cara menyiapkan dan menyesuaikannya, paling tidak saat awal penggunaannya. Silakan menyimak informasi awal tersebut berupa “Getting Started” dari situs proyek.

Mudah Membangun Apps Gunakan Android Studio

Di ajang Google I/O, pertemuan para pengembang yang berlasung di San Francisco, 15-17 Mei 2013, tim dari Google memperkenalkan Android Studio, yaitu sebuah IDE (Integrated Development Environment) untuk membangun aplikasi Android. Android Studio berambisi meningkatkan lebih lanjut lingkungan pengembangan terpadu (IDE) Android yang ada, agar lebih baik dan lebih mudah digunakan, sekaligus menggantikan sistem berbasis Eclipse yang digunakan sekarang. Android Studio menjanjikan penampilan App-Layouts yang lebih baik dibandingkan Eclipse, disamping lebih mudah menghasilkan kode pemrograman yang diinginkan, terutama dengan mengintegrasikan beragam antarmuka baru untuk komponen Android.

android_studio_presentation_640

Dengan jumlah lebih dari 900 juta (Mei 2013) perangkat Android yang telah diaktifkan saat ini, platform Android yang ditenagai kernel Linux ini merupakan sistem operasi perangkat bergerak yang paling banyak digunakan dan merupakan pasar terluas yang sangat menarik bagi para pengembang aplikasi perangkat bergerak. Pada bulan yang sama satu tahun sebelumnya (2012) jumlah instalasi Android tercatat 400 juta unit.

android_studio_konsol_640

IDE yang anyar ini adalah berbasis sistem IntelliJ, namun ia juga tersedia dalam versi bebas tanpa biaya berupa Community Edition. Banyak detil saat ini yang belum dirinci, namun diharapkan dalam rangkaian Developer-Sessions di Google I/O akan terungkap lebih banyak.

Diantara banyak antar muka yang tersedia, adalah termasuk sebuah Location-API yang lebih baik, yang memungkinkan sebuah Apps tidak sekedar bekerja lebih cepat dan efisien untuk mengetahui posisi dimana Smartphone tersebut sedang berada, namun juga diperoleh informasi apakah perangkat Android tersebut sedang digendong oleh pemiliknya sambil berjalan kaki, naik sepeda atau naik mobil. Hal ini merupakan bagian dari fitur GeoFencing, yang secara virtual dapat memagari wilayah ruang gerak sebuah perangkat smartphone tersebut. Kecuali itu tersedia fitur agar pengguna nantinya bisa registrasi pada sebuah App menggunakan Google+, serupa dengan Facebook-Logins yang telah umum digunakan, dan dengan bantuan sebuah PC dapat memilih Single-Sign-On menggunakan Google+ yang sebagai App kemudian dapat dipasang di Smartphone. Fitur antar muka lainnya adalah Google Cloud Messaging yang menyulap sebuah smartphone Android menjadi semacam service provider untuk layanan Push Notifications.

Fitur Gamer juga mendapatkan dukungan melalui Google Play Games yang memberi kemudahan dalam menciptakan permainan Multiplayer, dengan fitur yang dapat menyelaraskan (sync) status permainan dengan perangkat lainnya secara daring (online).

Developer Console seperti sebuah dash board juga membantu pengembang dalam banyak hal, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas Apps yang dikembangkannya. Google juga menampilkan saran-saran untuk mengoptimalkan Apps, termasuk menyediakan sebuah App Translation Service, yaitu sebuah pasar dimana pengembang dapat mencari dan menawarkan jasa penterjemahan ke berbagai bahasa.

Google Analytics juga tersedia untuk Apps yang nantinya mendata bagaimana para pengguna memanfaatkan Apps tersebut, seperti juga statistik tentang dari saluran mana dan berapa jumlahnya instalasi yang telah dilakukan pengguna. Demikan juga Revenue Graphs akan merinci lebih detil lagi mengenai data penghasilan pengembang, dibandingkan dengan yang telah tersedia sekarang.