GNOME Asia Summit 2015 Di Depok

Gnome-Asia-Summit-Depok-2015-May-7-9_1230x576

Komunitas pengembang untuk lingkungan desktop GNOME Indonesia akan menjadi tamu untuk acara Internasional GNOME Asia Summit 2015, yang rencananya diselenggarakan  di Kota Depok, pada tanggal 7-9 Mei 2015. Perhelatan yang diorganisir oleh GNU/Linux Bogor bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komputer (FASILKOM) dan berlangsung menggunakan fasilitas Universitas Indonesia di kota yang sama.

gnome-asia-2015-depok_300Dikutip dari siaran pers yang diterbitkan Gnome.org disebutkan: “GNOME Komite Asia dengan bangga mengumumkan bahwa GNOME.Asia Summit 2015 mendatang akan diselenggarakan di Kota Depok, Indonesia pada tanggal 07-09 Mei 2015. Lokasi ini akan menjadi tempat yang indah untuk merayakan dan mengeksplorasi lebih banyak fitur-fitur baru dan perangkat tambahan untuk GNOME 3. Universitas Indonesia, dimana GNOME.Asia Summit 2015 akan diselenggarakan, memiliki banyak mahasiswa dan masyarakat yang tertarik pada pemahaman software bebas dan sumber terbuka (F/OSS). Adanya tim lokal yang telah memiliki pengalaman signifikan dan sangat berkomitmen meyakinkan suksesnya acara tersebut. Lokasi yang dipilih terletak di Depok City, yaitu sebuah kota yang menjadi gerbang provinsi Jawa Barat, dan berjarak sekitar 30 km dari ibu kota Indonesia, Jakarta. Penyelenggaraan Asia Summit 2015 di Depok akan menjadikan GNOME pusat perhatian dan dampak yang luas baik lokal, regional dan internasional.” Seperti diketahui, komite penyelenggara acara dari Indonesia telah memenangkan proses lelang untuk “GNOME Asia Summit 2015” baru-baru ini.

“Kami menyambut dan sangat menantikan kedatangan masyarakat GNOME ke Indonesia, sebagai negara yang memiliki komunitas software bebas dan open source yang besar, dan sangat gembira bahwa mereka akan berkumpul disini untuk GNOME Asia Summit 2015” kata Estu Fardani, salah satu anggota tim penyelenggara lokal. Tokoh-tokoh Linux Bogor lainnya yang berperan dalam mensukseskan perhelatan ini termasuk Michael Sunggiardi (Bogor Internet), Mohammad Anwari (BlankOn Project), Yanmarshus Bachtiar dan Utian Ayuba. [Artikel PDF 500kB]

.