OpenStreetMap: Sedia Payung Sebelum Banjir

“Sedia payung sebelum hujan,” sebuah peribahasa yang dijabarkan dalam WikiQoute sebagai berikut: “Mengantisipasi masalah sebelum masalah tersebut terjadi. Terutama yang dimaksud adalah menabung dahulu selama bisa, atau selama hari muda. Nanti jika ada musibah sudah lebih mudah ditanggulangi. Harus selalu waspada sebelum segala sesuatu terjadi.

Sedia Payung Sebelum Banjir

Gerakan Open Source tidak sebatas perangkat lunak, namun Open Source diyakini oleh banyak kalangan sebagai ide positif dan bermanfaat untuk masyarakat luas, termasuk di bidang pemetaan. OpenStreetMap adalah proyek bebas yang mengumpulkan data spasial dan dapat digunakan secara bebas (Open Data). Data tersebut digunakan untuk membangun peta dunia dan peta-peta khusus yang dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan termasuk navigasi. OpenStreetMap memungkinkan siapa saja untuk melihat, mengedit dan menggunakan data geografis yang telah dibangun secara kolaboratif dari mana dan oleh siapa saja di permukaan bumi.

Inti dari proyek ini adalah berupa sebuah database geografis mirip Wiki yang dapat dimanfaatkan secara bebas berdasarkan Lisensi Open Database. Dengan demikian, pemanfaatkan baik untuk keperluan untuk di cetak, website dan untuk aplikasi perangkat lunak seperti navigasi tidak dibatasi maupun ditarik biaya, asalkan menyebutkan OpenStreetMap sebagai sumber data. OpenStreetMap tidak lain merupakan Wikipedia untuk data pemetaan dunia.

Menggunakan OpenStreetMap adalah salah satu upaya dalam menyikapi bencana sebelum hal itu terjadi dengan partisipasi masyarakat. Sebuah Tim khusus yang mengantisipasi pemetaan wilayah bencana adalah HOT (Humanitarian OpenStreetMap Team) yang saat ini diketuai ibu Kate Chapman sebagai direktur eksekutif dari Tim Kemanusiaan OpenStreetMap.

Seperti halnya Freeware pada perangkat lunak, sebagian besar peta yang ada seperti Google Maps adalah tidak sepenuhnya bebas maupun terbuka, walaupun bebas biaya (dalam batasan hukum dan teknis tertentu). Sementara itu, OpenStreetMap adalah seperti Wikipedia untuk peta, dimana siapa saja dapat memiliki akun dan berkolaborasi membangun peta secara gotong royong untuk di manfaatkan bersama.

Untuk menjaga kualitas pemetaan, seperti halnya pada Wikipedia, kontribusi peta yang bebas bukan berarti tanpa pengawasan. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk menciptakan sebuah peta dunia yang bebas dan relevan, baik dari sisi biaya maupun kemerdekaan. Data pemetaan yang dikumpulkan oleh masyarakat tersedia di bawah Lisensi Open Data Commons: Open Database License (ODbL), yang mirip dengan lisensi Creative Commons untuk Wikipedia, namun diciptakan untuk database.

Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) memanfaatkan data geografis OpenStreetMap dengan semangat dan prinsip open source untuk menanggapi bencana dan memfasilitasi proyek-proyek kemanusiaan lainnya. Aktivitas penting pertama dari Tim ini berupa panggilan masyarakat untuk memetakan Jalur Gaza pada tahun 2009, yang pada saat itu,  belum tersedia pemetaan yang baik untuk penduduk Palestina.

Mementum yang terkenal terjadi bulan Januari 2010, saat mana OpenStreetMap (HOT pada saat itu belum resmi terbentuk) berhasil menanggapi bencana gempa di Haiti. Dalam waktu tiga jam Tim kontributor dari Jepang telah mulai pemetaan Port-au-Prince, kemudian disusul oleh kontributor dari Jerman. Upaya tersebut disebar luaskan melalui jalur IRC dan mailing list, sehingga tersedia peta yang menunjukkan dampak bencana, dan perbedaannya terhadap peta yang tersedia. Hal ini sangat membantu penanggulangan bencana, dan untuk kali pertama data OpenStreetMap digunakan secara produktif.

OpenStreetMap Jakarta
Kredit gambar: http://www.openstreetmap.or.id

Sejak tahun 2011, Tim OpenStreetMap Indonesia mulai berkiprah dan melakukan pemetaan infrastruktur dan bangunan. Peta tersebut senantiasa ditambahkan dan diperbaiki secara berkesinambungan dengan bantuan masyarakat. Hasil pemetaan dapat digunakan siapa saja untuk tujuan apa, termasuk pemetaan kemiskinan, pariwisata, perencanaan kota, perencanaan bencana dan lainnya.

Tim OpenStreetMap Indonesia dengan kegiatan yang ditampilkan di situsnya melakukan berbagai kegiatan, termasuk lokakarya dan terutama ide positif yang diemban proyek kemanusiaan OpenStreetMap (HOT) di seluruh Nusantara. Mereka juga melakukan pemetaan di Jakarta, yang terdiri dari 267 kelurahan dengan penduduk lebih lebih dari 10 juta warga yang rawan banjir. Ketika pada bulan Januari tahun lalu (2013), Jakarta mengalami banjir, data pemetaan untuk kali pertama digunakan membantu penanggulangan.

Salah satu perngkat lunak open source yang terkait adalah InaSAFE, software buatan komunitas open source Indonesia untuk pemodelan dampak bencana yang dikembangkan oleh BNPB, Australian Aid, dan World Bank untuk mengantisipasi bahaya gempa, banjir dan bencana lainnya, dengan menambahkan data terkait lainnya, seperti data kependudukan dan infrastruktur. Dibuat untuk memberikan kemudahan dalam memprediksikan dampak dari sebuah bencana, sehingga dimungkinkan untuk melakukan perencanaan lebih baik dalam mengantisipasi bencana.