Open Source Hardware Percepat Pengembangan Produk

“Open Source” sampai sekarang paling sering dikaitkan dengan software untuk sebuah komputer. Pemahaman tentang Open Source tidak sekedar membuka kode sumber, melainkan telah menjadi simbol sebuah budaya berbagi ide, ilmu pengetahuan, dan pengalaman antar pengembang. Keberhasilan dari budaya tersebut telah dibuktikan misalnya di bidang komputasi, dengan keunggulan adopsi sistem operasi, mulai dari skala “Raspberry Pi”, sektor perangkat Mobile, sampai dengan Super Computer, disamping secara de-facto telah menjadi basis untuk Cloud, BigData, dan infrastruktur Internet.

Sementara pendekatan Open Source mendukung transparansi pada OpenCity, OpenGoverment dan beragam wacana yang bernuansa Open Source lainnya yang masih terus bergulir di lingkungan institusi yang bertanggung jawab terhadap publik, Open Source Hardware (OSHW) diprediksikan dalam waktu dekat akan mengubah tata cara dalam pengembangan produk fisik secara signifikan, disamping akan membantu akselerasi yang diiringi dengan re-engineer dalam proses manufacturing.

Proses tersebut ditandai dengan kehadiran printer 3D dengan harga yang kini mulai terjangkau untuk kebutuhan pribadi. Ditambahkan dengan kebebasan dalam pemanfaatan desain hardware dan software sebagai anugerah gerakan Open Source, sebuah perusahan seperti Circuitpot misalnya, memiliki keuntungan yang unik. Perusahan kecil di China tersebut menggabungkan pengetahuan yang tersedia dari gerakan open source dengan proses manufaktur yang murah di China, sambil mendorong inovasi dengan mengeksplorasi cara baru dalam desain dan pengembangan produk. Dengan prasarana yang terjangkau, hal yang serupa tidak sulit ditiru untuk dilakukan dimana saja di negara lain.

Situs bisnis Cina: Caixin Online menampilkan sebuah video tentang Gerakan Hardware Sumber Terbuka di Cina, yang mengisyaratkan sebuah perubahan pada industri manufaktur.

oshw_circuitpot_640

Filosofi berbagi kekayaan intelektual yang saling menguntungkan di dunia Open Source, memungkinkan siapa saja melakukan peningkatan dan perbaikan terhadap sebuah ide kemudian mengembalikan perbaikannya ke publik di seantero jagat. Dengan demikian produk berbasis Open Source lebih dapat diandalkan dibandingkan desain eksklusif, karena pengulas yang memantau kwalitas jumlahnya ratusan, atau bahkan ribuan. Sampai saat ini, open source sebagian besar diterapkan terbatas pada dunia perangkat lunak, namun mulai sekarang telah ditularkan lebih luas ke kalangan manufaktur.

Ragam dampak atas kehadiran Printer 3D di rumah:

3d_printer_640
Sebuah Printer 3D

Setiap kehadiran sebuah teknologi baru dengan harga yang terjangkau dan cepat tersebar di lingkungan pribadi secara luas, tidak selalu hanya membawa dampak positif saja. Seperti pisau bermata dua, sebagai contoh adalah tersebarnya printer mencetak berwarna dengan kemampuan kwalitas baik yang kini telah menjadi bagian dari asesoris standar komputer pribadi di rumah, maka sulit dihindarkan adanya peluang bila printer tersebut di(salah)gunakan untuk pemalsuan mata uang. Printer yang sama juga telah melumpuhkan industri pencetakan foto berwarna yang sebelumnya tidak dapat dilakukan sendiri oleh konsumen dirumahnya.

Pencetakan 3D berupa Printer 3D pada saat ini banyak digunakan, misalnya oleh para medeler yang mengoprek sistem robot, untuk membuat prototype dengan berbagi ide atau disain yang dikirimkan berupa file melalui internet. Disamping digunakan untuk berbagi Open Source Hardware (OSHW), dampak positif sebuah printer 3D dimasa mendatang misalnya pada sistem purna jual. Seperti driver pada software, pabrik piranti keras dapat mengirim spare-part yang disediakan berupa file untuk dicetak atau diukir dengan printer 3D yang sekarang harganya sekitar 1.700 dollar.

Dibalik sisi positif, pemerintah Amerika (US Department of Homeland Security) prihatin atas kemungkinan proliferasi atau penyebaran tak terkendali pada senjata yang dibuat dengan bantuan printer 3D. Menurut pemberitaan yang dimuat di Fox News, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika melaporan bahwa tidak mungkin untuk menghentikan produksi senjata yang mudah dibuat dengan printer 3D tersebut. Kasus yang dimaksud adalah mengacu pada sebuah proyek “Defense Distributed” pada bulan Mei lalu dengan berbagi file yang dapat diunduh secara daring untuk digunakan mencetak (tepatnya memproduksi) senjata lengkap siap pakai menggunakan sebuah printer 3D. File yang sempat diunduh lebih dari 100.000 kali tersebut, beberapa hari kemudian tidak lagi tersedia secara daring.

Kasus yang sama juga membuat polisi di Australia kurang nyenyak tidurnya. Untuk membuktikan betapa bahaya dari senjata yang beredar Internet itu, dinas kepolisian di negara bagian New South Wales, telah mencoba sendiri membuat senjata “Liberator” tersebut menggunakan printer 3D yang demonya dapat disimak via YouTube. Senjata yang memusingkan ini, dapat dibuat dengan meterial plastik seniali 35 A$, tidak dibubuhi nomor serial sehingga peredarannya tidak dapat dikendalikan. Belum lagi nantinya menjadi masalah bagi penerbangan karena senjata tersebut tidak terdeteksi, baik menggunakan perangkat sinar-X, apalagi dengan metal detector.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s