Majalah InfoLINUX 2011 Nopember

Pada edisi November 2011 majalah InfoLINUX ini, disertakan sebagai bonus sekeping media DVD-DL yang mengemas Ubuntu 11.10 (Oneiric Ocelot) dan Lubuntu 11.10. Dalam sebuah artikel juga diexplorasi Oneiric Ocelot agar pembaca dapat mencicipi pesona distribusi Ubuntu 11.10 versi DVD. Sebagai topik utama bulan ini diangkat panduan lengkap membangun sebuah mail server untuk kebutuhan kantor.

Diawali dengan Editorial yang membahas “Fenomena Ubuntu dan Android”, pembaca disuguhkan berita Aktual yang meliput: “Rilis Final Kernel Linux Versi 3.1″, “Edisi Komunitas Metasploit”, “Vodafone WebBook”, “Pengembangan phpcloud.com dari zend”, “NAS Berbasis Linux Debian”, dan “NoScript” untuk Mobile.

Opini para pakar dibahas oleh Budi Rahardjo: “Metodologi Pengujian Sistem”, Michael S Sunggiardi: “Kisah Dua Steve”, dan I Made Wiryana: “Mengunjungi Tempat Kelahiran Linux”.

Setelah menjawab semua surat Anda dibahas Distro: Ubuntu 11.10 Desktop dan Lubuntu 11.10 Desktop yang disertakan bersama bonus DVD.

Dua Game yang disertakan dan dibahas kali ini adalah FreeCol 0.10.2 dan OpenTTD 1.1.3. Sementara liputan Buku membahas: “The Basics of Hacking and Penetration Testing”, “Tweeting Linux”, dan “Ubuntu Unleashed 2012 Edition”.

Sebagai Software Pilihan diliput: “OpenEMR 4.1.0″, “Webmin 1.570″, “Realtime Sunlight Wallpaper 0.4″, “STANTOR-DOMODULOR 0709b”, “Wammu 0.36″, “Slipstream 0.1″, “mail2sh 1.4-3″, “OpenCards 2.0.1″, “DRBD Management Console 0.9.9″, “GNU ddrescue 1.15 Pre2″, “phpPgAdmin 5.0.3″, “MKVToolnix 5.0.1″, dan “sokit 1.2″.

Topik Utama membahas cara “Membangun Server Mail Sederhana dengan Zimbra”. Liputan seputar kegiatan Komunitas membahas tentang “KPLI NTB Selenggarakan ILC 2011″, dan “KOLAM Adakan Open Source Week”.

Dalam rubrik Praktik Instan dibahas tentang Otomatisasi GUI dengan Sikuli. Sementara untuk rubrik Net Admin tersedia artikel tentang “Mengatur Alur Incoming dan Outgoing Port SSH dan HTTP” dan “Daftar Warnet Berbasis Linux Di Indonesia” yang telah diperbaharui.

Di kolom Tutorial tersedia panduan mengenai “Partisi Harddisk via GUI dan Teks di Sistem Operasi Linux”, “Android SQLite Database”, dan “Pengenalan Yii Framework”

Rubrik Workshop kali ini membahas “Mobil Berwarna Silver”, “Menghitung Denda
Membuat Animasi Hujan”, dan “Eksplorasi Ubuntu 11.10 versi DVD”.

Kuis InfoLINUX cukup bermanfaat untuk mengisi waktu luang Anda sambil menanti Edisi Mendatang (Desember 2011) yang daftar isinya tertera di halaman akhir majalah ini.

VectorLinux 7.0 Gunakan XFCE 4.8

VectorLinux 7.0 (kode ‘GG’) yang baru saja dirilis menurut tim pengembangnya telah dibangun dan dioptimalkan selama dua tahun terakhir. VectorLinux adalah salah satu distro yang tertua yang dibangun diatas Slackware dan selama ini diklaim sebagai distro ringan yang cepat. Hal itu pada versi 7.0 kali ini lebih digarisbawahi dengan memasang kernel Linux 3.0.8 dilengkapi dengan aneka Multimedia-Codecs.

Berbeda dengan distro popular lainnya, VectorLinux 7 tidak menggunakan Gnome atau KDE sebagai pilihan untuk desktop, melainkan memberdayakan secara default desktop XFCE versi 4.8 yang ramping. Sebagai alternatif tersedia desktop Fluxbox, disamping sejumlah aplikasi ringan seperti Gnumeric 1.10.12 dan Abiword 2.8.6 untuk perkantoran, Firefox dan Opera sebagai browser, Pidgin dan XChat untuk pesan obrolan. Sebagai program mendukung grafik disertakan Gimp, Inkscape, dan sebagai editor Video disediakan Shotwell seperti juga beberapa pemutar media: Mplayer, Xine dan Exaile.

Agar bisa menikmati VectorLinux 7, pengguna cukup menyediakan perangkat komputer mulai Pentium 3, dengan 128 MB RAM dan spasi hardisk  5 GB.

VectorLinux menerbitkan dua jenis media, pertama yang khusus untuk di intalasi dan kedua adalah media liveCD yang juga bisa diinstal. Keduanya pada saat ini tersedia untuk 32 bit, sedangkan untuk 64 bit akan disusulkan pengembangnya.

Linux Mint 12 “Lisa”: Desktop Linux Paling Banyak Dicari

Setelah (K)atya saatnya Linux Mint 12 menampilkan (L)isa menggunakan Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot sebagai basis. Kendati sejak versi 11.04 Ubuntu telah berpaling ke antarmuka desktop Unity buatan sendiri, Linux Mint konsisten loyal dengan tampilan yang lebih terbiasa bagi kebanyakan penggunanya.

Secara resmi mulai versi Ubuntu 11.04 Canonical memutuskan untuk menggunakan Unity sebagai desktop standar. Mint 11 Katya dengan basis Ubuntu yang sama, tidak mengikuti jejak Ubuntu Unity dan tetap konsisten pada Gnome 2.32. Ketidak-puasan banyak pengguna terhadap Unity ternyata telah mendongkrak popularitas Mint secara signifikan, menyalib dan mengambil alih posisi nomor satu Ubuntu.

Sejak kehadiran GNOME 3 yang pada hakekatnya dan dalam banyak hal adalah berbeda dengan GNOME 2, tidak sedikit distro Linux yang dihadapkan kepada sebuah dilema. Bahkan Linus Torvalds-pun tidak luput menyampaikan pesan penolakannya terhadap kehadiran GNOME 3. Namun keharusan beralih ke GNOME 3 adalah sebagai konsekuensi akan berakhirnya dukungan untuk GNOME 2.

Untuk menyiasati hal itu, sebagian dari distro-distro popular melakukan transisi dengan upaya menggabungkan fitur dari kedua versi desktop tersebut atau menambahkan antarmuka baru seperti halnya Unity pada Ubuntu. Namun, sebagai tandingan untuk Unity, kali ini Linux Mint 12 memperkenalkan MGSE (Mint Gnome Shell Extensions), yaitu modifikasi GNOME 3 dengan “look and feel” ala GNOME 2 yang khas Mint. Kecuali itu menyediakan “Gnome 2 Fork Mate” yang bisa dipasang sebagai alternatif atau bersama dengan Gnome 3.

Lisa (Mint 12) menyediakan dua panel (atas dan bawah). Panel atas adalah panel GNOME 3 yang tidak dapat dihilangkan, namum bisa dirubah untuk melakukan perbaikan dan peningkatan sesuai pengguna. Sedangkan panel bawah adalah panel bawaan khas dari pemgembang Linux Mint yang menyediakan akses untuk menu Launcher ala Windows berikut built-in search dan favorites, seperti juga desktop switcher dan pusat notifikasi.

Akses terhadap antarmuka GNOME 3 dimulai dengan menekan tombol (simbol tak terhingga) dari ujung kiri panel atas menampilkan akses untuk kalendar, user settings dan panel kontrol, network interface, seting untuk volume control dan sound, seperti juga ikon untuk semua aplikasi yang terpasang.

MGSE atau (Mint Gnome Shell Extensions) adalah sebuah ekstensi untuk Gnome Shell yang memungkinkan desktop GNOME 3 untuk mengemulasi tampilan yang mendekati tampilan GNOME 2. Dengan demikian misalnya, tersedia di panel bawah desktop switcher, termasuk fitur-fitur yang pada versi sebelumnya juga telah tersedia.

Melalui Gnome Tweak Tool, pengguna dapat menentukan ekstensi shell mana yang ingin diaktifkan. Ektensi Shell secara default diinstalasi, namun pengguna dapat mengkatifkan atau mematikannya melalui fitur di menu “Gnome Tweak Tool”.

Bagi mereka yang seratus persen tidak doyan GNOME 3, sementara belum terbiasa dengan antarmuka khas Mint, tersedia paket software Gnome-2-Fork Mate. Menggunakan basis kode versi Gnome-2.32, Mate merupakan alternatif bagi pengguna yang tidak mampu terbebas dari GNOME 2 baik dari sisi antarmuka maupun fitur.

Linux Mint: “Ubuntu Well Done”
Disamping penambahan bermanfaat yang disediakan untuk desktop, pengembang Linux Mint 12 seperti sebelumnya senantiasa menyertakan semua Multimedia-Codecs yang dibutuhkan untuk Ubuntu-Medienplayer yang biasanya harus diunduh ekstra dari Internet. Beberapa fitur Mint 12 juga telah mendapatkan peningkatan sejak penerbitan Ubuntu 10.11, diantaranya adalah: Kernel 3.0, GCC 4.6.1, X.org 7.6, Firefox 7, Thunderbird 7, dan LibreOffice 3.4. Berkat kompatibilitas sepenuhnya terhadap Ubuntu, tersedia untuk Mint paling tidak dalam jumlah yang sama paket aplikasi bebas yang bisa diperoleh dan dijalankan di Linux Mint.

Meningkat: Partisipasi Perempuan Pada Proyek Open Source

Terhitung sejak enam tahun terakhir rata-rata satu pengembang perempuan yang bekerja untuk proyek Gnome yang terdaftar di ajang acara Googles Summer of Code (GSoC), namun pada tahun ini jumlah peserta telah meningkat menjadi tujuh pemrogram perempuan terdaftar di GSoC. Hal itu bisa saja terjadi, karena menurut dugaan proyek Gnome, semuanya berkat program khusus “Gnome Outreach Program for Women” yang dilansir di bulan Oktober lalu. Program magang yang khusus ditargetkan untuk kaum hawa itu, didukung penasihat-penasihat (Mentor) yang khusus disediakan untuk memuluskan kontribusi pertama para pengembang perempuan di salah satu proyek komunitas.

Sejatinya, bimbingan dari tim proyek telah dimulai sejak pendaftaran para calon peserta. Peserta telah menerima pengarahan langsung tangan pertama dari proyek tentang langkah-langkah dan teknologi yang harus disiapkan masing-masing peserta. Kecuali itu, peserta juga dijelaskan betapa indahnya bagai seseorang yang bisa memberikan sebuah kontribusi pada proyek software bebas. Dan nantinya bila saatnya magang dimulai, peserta telah berbekal dengan pengetahuan dan semangat yang dibutuhkan untuk menyokong proyek Gnome.

Para pembimbing atau penasehat (mentor) yang akan mendampingi para ibu atau gadis pemrogram tahun ini menulis sangat terkesan akan kinerja yang ditunjukkan para peserta. Peserta Nohemi Fernandez misalnya telah mengimplementasikan papan ketik layar berfungsi penuh untuk Gnome Shell, yang juga dapat digunakan pada tablet. Raluca Elena Podiuc membuat program yang memungkinkan membuat Avatar di Empathy menggunakan Webcam. Sementara Srishti Sethi menciptakan aktifitas yang dapat membantu anak-anak belajar tulisan Braille melalui software pendidikan GCompris.

Sejajar dengan penyertaan perempuan di GGSoC, terdapat delapan peserta perempuan lainnya di proyek Gnome yang magang atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) dalam rangka “Gnome Outreach Program for Women”. Lima diantaranya akan menggeluti bidang dokumentasi dan membangun helpdesk berorientasi tema untuk basis desktop, dan aplikasi-aplikasi Accerciser, Vinagre, Brasero, Cheese seperti juga pada Gnome System Monitor. Disamping untuk dokumentasi Accerciser, Aline Duarte Bessa mengambil alih pekerjaaan lain yaitu daftar kesalahan untuk mendapatkan umpan balik pada semua kesalahan untuk kemudian diperbaiki. Disamping itu, ia juga membantu pembuatan dokumentasi pada proyek pengembangan Assistive Technology Service Provider Interface (AT-SPI).

Meg Ford bekerja dalam melengkapi “High Contrast und High Contrast Inverse Themes” untuk Gnome, dengan membuat 81 Ikon baru dan memperbaiki 241 eksisting. Sementara itu, Yu Liansu menciptakan Gnome Visual Identity Portfolio yang komprehensif dengan karya seni orisinil, Poster, Brosurn, Presentasi dan konsep untuk Web.

Para peserta magang perempuan kali ini datang dari berbagai belahan bumi termasuk Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika dan Australia untuk memulai aktifitasnya pada tanggal 12 Dezember 2011 sampai dengan 12 Maret 2012 di bidang teknologi Gnome, Dokumentasi, Marketing dan Lokalisasi. Semuanya akan bekerja ditempatnya masing-masing dan merekam hasil kerjanya melalui Blog di Planet Gnome. Berkat sponsor dari Collabora, Google, Mozilla, Red Hat dan Gnome Foundation, diharapkan proyek Gnome dapat menampung 12 PKL perempuan pada program yang sama jadwal berikutnya.

Program “Gnome Outreach Program for Women” diorganisasi oleh dewan direksi Gnome termasuk Marina Zhurakhinskaya, Karen Sandler, dan Rosanna Yuen. Sementara kebanyakan pekerjaan diselesaikan oleh para mentor, peserta magang dapat memahami proses kerja sebuah proyek. Peserta diberikan tunjangan untuk 3 bulan magang masing-masing sebesar 5.000 Dolar Amerika yang kali ini dibiayai oleh Gnome Foundation dan Google ( masing-masing untuk 4 PKL), 2 PKL dibiayai oleh Mozilla dan masing-masing 1 PKL oleh Collabora dan Red Hat.

openSUSE 12.1 Hadirkan Pembaruan Di Semua Jajaran

Bersama kehadiran versi terbaru openSUSE 12.1 telah dilakukan transformasi ke era terkini desktop software bebas dan teknologi server dengan menampilkan sejumlah fitur yang unik seperti misalnya Snapper tool untuk memantau perubahan berkas berikut fungsi rollback.

Sebagai software pendukung Systemstart kini digunakan Systemd dan berkat pemrosesan yang dilakukan secara serentak (parallel), dimungkinkan booting “lebih cepat, lebih baik”. Pembaruan lainnya adalah penerapan Btrfs sebagai salah satu pilihan untuk sistem berkas yang telah terintegrasi dengan perkakas unggulan YaST. Sementara itu sistem berkas Ext4 masih tetap digunakan sebagai sistem berkas standar (default).

Desktop openSUSE 12.1 memperkenalkan fitur color management, GNOME Shell dan mendukung empat lingkungan desktop utama (KDE, Gnome, Xfce dan Lxde) lainnya. Saat proses instalasi berlangsung, pengguna diberikan peluang untuk pilihan lingkungan desktop KDE 4.7, Gnome 3.2, Xfce dan Lxde. Pengembangnya juga mengklaim bahwa openSUSE adalah distro utama pertama yang mengemas sistem “color management tools”, baik pada desktop GNOME maupun KDE.

Bersama GNOME 3.3 yang disertakan, pengembangnya telah melakukan penyempuranan terhadap GNOME Shell. Peningkatan utama versi ini dibandingkan GNOME 3 preview yang diperkenalkan pada openSUSE 11.4, adalah termasuk penanganan yang lebih baik pada layar sempit dan pada layar multi-screen, notifikasi lebih baik dan konfigurasi akun daring (online accounts configuration) yang terpusat. Rilis ini juga membawa pengengelola berkas baru, pratampil cepat pada Nautilus file manager, peningkatan pada pengelolaan warna dan rotasi otomatis untuk perangkat dengan “touch screen”.

Edisi KDE dari openSUSE 12.1 mengemas KDE Plasma Workspaces 4.7 sebagai desktop utama dan merupakan desktop utama pertama yang memberdayakan KolorManager baru, plus perkakas pengelola warna Oyranos. Pembaruan lainnya termasuk KPackageKit untuk menggantikan Apper, penyederhanaan instalasi dan pencopotan aplikasi.

SysAdmin dapat mengelola openSUSE 12.1 jarak jauh lebih mudah menggunakan WebYaST yang disertakan bersama distro ini. Kecuali itu, ia juga telah disiapkan untuk dijalankan di lingkungan Cloud Amazons. Dan bersama teknik virtualisasi seperti Xen 4.1, KVM dan VirtualBox, openSUSE 12.1 dapat digunakan sebagai sistem Host untuk menampung sistem operasi lainnya. Di lumbung repositori untuk vistrualisasi dan cloud distro ini tersedia banyak perkakas dan paket yang dapat digunakan untuk membangun dan mengelola layanan Cloud seperti ownCloud dan Mirall, Eucalyptus, OpenNebula atau OpenStack.

Banyak pembaruan telah diterapkan pada openSUSE 12.1 bila dibandingkan dengan versi sebelumnya, diantaranya adalah Kernel 3.1, GCC 4.6 dan X.org 7.6. Kernel Linux 3.1 yang digunakan telah mengandung perbaikan pada driver untuk jaringan dan grafik. Versi kernel ini telah mendukung modul Rt2x00 untuk set chip besutan Ralink pada RT3572/RT3592/RT3592+Bluetooth Combo Card. Driver versi bebas Nouveau bersama openSUSE 12.1 diklaim mampu mendukung firmware akselerasi hardware 3D yang diperlukan untuk kartu grafis Nvidia dengan chipset Fermi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 174 pengikut lainnya.