Natty Narwhal: Pembaruan Di Ubuntu 11.04

Sejak kehadiran Natty Narwhal akhir April 2011, banyak yang telah mencoba atau menggunakan seterusnya. Distribusi Linux moderen yang menggunakan Gnome sebagai desktop seperti IGN2011 misalnya, saat ini telah melakukan transisi dan beralih menawarkan Gnome 3 berikut fitur Gnome-Shell. Ubuntu mengambil jalan lain dan tetap menggunakan versi Gnome 2.32 seraya memperkenalkan fitur antarmuka “Unity” besutan tim pengembang di dapur Ubuntu. Kendati demikian, pembaruan yang dilakukan di Ubuntu 11.04 tidak sebatas Unity saja. Serangkaian perubahan lainnya termasuk peningkatan-peningkatan sejak keberadaan versi 10.10 Maverick Meerkat juga telah dilakukan.

Fitur-fitur dari versi sebelumnya yang tetap dipertahankan termasuk Softwarecenter, Terminal, paket Office, Audioplayer dan pemutar Video. Bersama Ubuntu 11.04 juga dikemas aplikasi-aplikasi standar lain yang semuanya bisa diakses via desktop Unity. Pada awalnya Unity dibuat untuk Netbook dengan tujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lebih efisien dari layar Netbook yang sempit. Bersamaan dengan terbitnya Ubuntu 11.04, Unity diterapkan juga untuk komputer meja sebagai desktop default. Dengan demikian, edisi Ubuntu Netbook Remix (UNR) secara alamiah menjadi mubazir dan tidak lagi diterbitkan. Secara keseluruhan penampilan Natty tidak berbeda kecuali penambahan dock asal Unity yang otomatis tersembunyi bila tidak diperlukan, yang terutama membantu desktop dengan layar sempit seperti halnya di Netbook menggunakan layar lebih efektif.

Untuk menjalankan Unity, diperlukan kemampuan kartu grafis yang bisa memroses akselerasi 3D. Bila kemampuan hardware yang dibutuhkan tidak terdeteksi, maka secara otomatis dipasang desktop klasik Gnome 2.32. Karena belum merupakan bagian dari kemasan standar Ubuntu 11.04, bagi yang menginginkan Gnome 3 termasuk fitur Shell bawaannya, pengguna bisa memasangnya secara manual dari repositori PPA.

Sejatinya, desktop Unity tidak lain merupakan antar muka baru untuk Gnome. Unity jalan di komputer moderen dengan kartu grafis ATI atau Nvidia yang telah ada dipasaran sejak lima tahun lalu atau komputer yang menggunakan chip grafis Intel yang dibuat sejak sekitar tahun 2005 (tipe GMA 950 atau lebih baru).

Sebagai installer digunakan Ubiquity yang di versi Ubuntu sebelumnya telah mendapatkan banyak perbaikan dan peningkatan sehingga sepintas tidak terlihat perubahan tampilan. Di Ubuntu 11.04 pengembangnya telah melakukan perbaikan terutama pada perkakas partisi yang menampilkan struktur lebih jelas.

Banyak perbaikan juga dilakukan pada software aplikasi. Software-Center misalnya mengenalkan fitur baru “Reviews & Ratings”. Dengan fitur tersebut pengguna dapat memberikan penilaian terhadap applikasi-aplikasi di Package Manager, yang dilakukan via akses layanan tanpa bayar Ubuntu One, dengan membubuhkan sampai dengan 5 bintang. Kecuali itu pengguna juga dapat menambahkan komentar tentang aplikasi yang digunakan kemudian ditampilkan di Softwarecenter. Pendapat pengguna cukup penting sebagai barometer popularitas sekaligus acuan untuk perbaikan dan peningkatan untuk versi software berikutnya.

Termasuk baru di SoftwareCenter adalah fitur yang mengukur standar kualitas dari software aplikasi dan pengguna diingatkan bila software yang dipilih tidak memenuhi standar Ubuntu dan pengunaannya atas risiko dan menjadi tangguan pengguna bila terjadi gangguan terhadap stabilitas sistem.

Kemajuan juga terjadi pada plaform Cloud: Ubuntu One. Komputasi awan atau istilah kerennya Cloud Computing merupakan topik yang ngetrend akhir-akhir ini dan memiliki arti sangat luas. Salah satunya merupakan fitur yang ditawarkan Ubuntu One adalah penyimpanan data atau berkas yang diakses via web dari mana saja, selama pengguna tersambung dengan Internet. Peningkatan di versi Ubuntu 11.04 terutama dalam hal kecepatan sinkronisasi, disampin perbaikan pada ikon launcher yang juga digunakan untuk menampilkan pesan status dari Ubuntu One.

Sebagai pemutar lagu yang baru, disediakan Banshee untuk menggantikan Audioplayer Rhythmbox. Bila diinginkan program ini juga dapat mengimpor berkas dari Rhythmbox. Audioplayer ini memiliki fitur lebih luas dari pada Rhythmbox, seperti kemampuan untuk mengkonversi CD audio ke format MP3.

Sebagai aplikasi perkantoran, Ubuntu 11.04 menyertakan LibreOffice 3.3.2 sebagai pengganti OpenOffice.org. Untuk mengelola koleksi gambar digunakan versi terakhir aplikasi Shotwell 0.9.2 yang menyokong format TIFF dan mampu merender foto format RAW lebih baik, sedangkan sebagai Video-Editor tersedia Pitivi 0.13.5.

Firefox 4 yang diklaim bisa start sampai 6 kali lebih cepat dari pada versi sebelumnya, digunakan sebagai browser standar untuk Ubuntu 11.04. Browser ini telah mendukung teknologi baru HTML 5, format WebGL (antarmuka 3D untuk browser) dan WebM (sebuah Container format dari semua Codecs bebas untuk Audio dan Video). Tergantung dari chip grafis yang digunakan, WebGL sementara ini dilaporkan masih mengandung masalah, dan diharapkan dapat diperbaiki dalam waktu dekat.

Pembaruan yang cukup mencolok, terjadi di ruang mesin pacu Natty Narwhal yang terpasang kernel Linux 2.6.38, dan mengandung patch khusus “Wonder Patch” yang juga digunakan Fedora 15 dan Mandriva 2011 akan datang. Fitur ini bertugas untuk mengatur pengelompokan proses-proses agar CPU bekerja lebih efisien memanfaatkan waktu luangnya dengan merata. Kecuali adanya peningkatan kinerja yang menurut Linus Torvald dapat dirasakan, kernel ini juga mendukung keluarga baru chip AMD Fusion, yaitu APUs (Accelerated Processing Units) yang dikawinkan dengan CPUs dan GPUs dalam satu chip, menghasilkan kinerja luar biasa karena bisa memberdayakan kapasitas komputing ekstra dari sebuah chip grafis moderen. Perbaikan di Kernel lainnya termasuk pada sistem berkas Ext4, Btrfs dan XFS, seperti juga integrasi protokol Mesh bernama B.A.T.M.A.N (Better Approach To Mobile Adhoc Networking).

Untuk para pengembang, Ubuntu 11.04 menyediakan GCC 4.5 dan Python 2.7, yang dua-duanya merupakan versi yang sama seperti sebelumnya. Menyokong Start digunakan Upstart 0.9.4 yang telah diperbaiki termasuk mengeliminir permasalahan di lingkungan Chroot. X.Org 1.10.0 dan Mesa 7.10.1 juga telah diintegrasikan di versi Ubuntu ini. Sebagai paket pendukung untuk fitur peng-input-an Multitouch digunakan XInput 2.1, termasuk Qt-Toolkit yang juga secara eksperimental telah mendukung fitur Multitouch.

Sebagai pemula di Ubuntu yang menggunakan antarmuka Gnome, biasanya relatif mudah untuk beradaptasi menggunakan desktop. Lain halnya bagi pemula yang dihadapkan dengan antarmuka Unity. Start menu di Unity tidak langsung bisa ditemukan. Pengaturan sistem di Ubuntu 11.04 tersembunyi dibalik tombol Logout kanan atas. Semua itu nantinya tidak menjadi masalah, melainkan pengguna harus melakukan penyesuaian dengan kebiasaan baru.

Untuk menemukan aplikasi yang sudah terpasang dimulai dengan menekan Home Button berlogo Ubuntu dipojok kiri-atas. Tombol Home ini membuka lembaran aplikasi yang dikelompokkan dalam beberapa folder dan menyediakan mesin pencari (search) untuk menemukan aplikasi tertentu yang telah terpasang.

Paling mencolok di Unity adalah kehadiran panel baru disisi kiri layar yang berfungsi sebagai launcher atau starter untuk aplikasi dengan menampilkan ikon masing-masing aplikasi. Aplikasi-aplikasi yang telah diluncurkan dan berjalan di latar belakang, ditandai dengan segitiga kecil di sebelah kiri ikon, sedangkan yang aktif ditambahkan lagi di sebelah kanan ikon. Bagi pengguna sistem Mac OS X, skenario seperti itu barangkali bukan merupakan hal yang baru.

Dengan klik-kanan tetikus di salah satu ikon-ikon tersebut, ditampilkan informasi singkat tentang nama dari aplikasi tersebut, dan pilihan dengan klik-kiri yang memungkinkan ikon bisa pamer secara permanen di launcher. Untuk aplikasi yang sedang berjalan di latar belakang, disediakan pilihan untuk keluar atau mematikan aplikasi tersebut. Khusus untuk ikon bertanda (+) ditampilkan menu terstruktur yang lengkap dan dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Dengan melakukan klik di ikon (+) ditampilkan halaman seperti halnya ketika meng-klik tombol home, namun meragakan ikon sederetan aplikasi dari kelompok yang dipilih. Pengguna dapat mengatur posisi ikon-ikon tersebut dengan men-drag (klik-kiri) ke posisi yang diinginkan, atau membuangnya dengan memindahkan (drag) ke tong sampah.

Sedikit membingung bila pengguna kali pertama kecan dengan Natty Narwhal di monitor layar lebar (misalnya diatas 20 inci, dengan resolusi 1920×1024 titik). Pengguna layar lebar umumnya jarang membuka satu aplikasi yang memenuhi seluruh layar monitor seperti halnya (keharusan) di sebuah Netbook  dengan layar sempit. Aplikasi-aplikasi di layar lebar biasanya dibuka di banyak jendela dengan masing-masing aplikasi. Pengguna yang biasanya menemukan menu di baris “top bar” secara intuitif akan mencarinya di jendela masing-masing dan akan bingung menemukannya. Pasalnya, Unity telah memindahkan isi bar menu yang umumnya ada di jendela masing-masing, ke bar utama di top atas dari desktop untuk aplikasi yang sedang aktif.

Pengalaman singkat bersama Natty Narwhal sebagaimana dipaparkan diatas, merupakan sebagian kecil dari seluruh pembaruan yang ditawarkan Unity saat ini dan diyakini akan terjadi banyak perubahan lainnya seiring dengan masukan yang diterima oleh tim pengembangnya dari pengguna yang jumlahnya kian bertambah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s