NATO Singkap Dokumen Aturan Perang Cyber
1 April 2013 Tinggalkan Komentar
Dalam sebuah dokumen tentang undang-undang perang cyber yang dipublikasikan NATO, menempatkan seorang hacker sipil yang aktif berperan dalam sebuah perang cyber sebagai kombatan dan karena itu secara fisik dapat diserang dan bahkan dibunuh.
Seperti sebuah perang fisik, perang Cyber juga menurut dokumen tersebut harus memiliki aturan, kendati tidak selalu dipatuhi. Dokumen yang disusun oleh sejumlah ahli Internasional dan disponsori NATO tersebut, mengukapkan sedikit pengarahan dalam menentukan strategi sebuah perang cyber dimasa depan.
NATO menugaskan sekelompok ahli untuk menyusun seperangkat aturan Internasional dalam sebuah perang cyber. Dokumen dimaksud kini telah diterbitkan berupa manual dengan nama Tallinn (ibu kota Estonia). Nama dan lokasi dari dokumen tersebut rupanya bukan secara kebetulan. Seperti diketahui Estonia merupakan korban parah serangan DDoS oleh sekelompok hacker dari Rusia pada tahun 2007.
Betapa seriusnya NATO dan para ahli-nya menanggapi ancaman serangan cyber, diungkapkan dalam penempatan yang mengklasifikasikan pelaku serangan. Mengacu pada bagian “Aturan 35 – Partisipasi langsung Sipil dalam Peperangan”, menempatkan hacker sipil sebagai peserta perang yang aktif. Dikutip dari halaman 120 tertulis “Clearly, conducting cyber attacks related to an armed conflict qualifies as an act of direct participation,..”

Serangan terhadap instalasi militer lawan, pada hakekatnya diklasifikasikan sebagai aksi militer langsung, sebagaimana halnya serangan dengan senjata. Perang dapat diawali dengan sebuah “klik”, baik menarik pelatuk senjata api, atau menekan tetikus sebuah komputer. Aturan tersebut diterapkan terutama pada serangan DDoS dan menginfeksi dengan malware. Bahkan pengungkapan kerentanan dari sistem komputer lawan dapat dianggap sebagi tindakan perang. Masih diragukan oleh para ahli, apakah pemasok malware dari pihak ketiga dapat diklasifikasikan sebagai peserta perang atau seorang Hacktivis perang.
Silakan membaca selengkapnya dokumen Tallinn-Manual, sebelum beranjak ke medan perang cyber.





