Ketum AOSI Terima Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI

Satyalancana Wira Karya untuk Betti AOSI

Dalam upacara memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 68 di Gedung Kementrian Kominfo, Ibu Betti Alisyahbana selaku Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) telah mendapatkan kehormatan untuk menerima penghargaan berupa “Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI.”

Tanda Penghargaan yang disematkan oleh Menkominfo itu, diberikan atas kontribusi yang sangat berarti bagi Indonesia dalam memajukan Teknologi Informasi.

Tanda penghargaan ini tentunya untuk kita semua para penggiat Open Source. Selamat untuk kita semua!“, telah disampaikan dengan  penuh semangat oleh Ibu Betti kepada segenap jajaran pengurus dan tentunya anggota, terutama bagi komunitas penggiat dan pengembira Open Source Indonesia yang secara langsung telah memberikan kontribusinya selama ini.

Ubuntu Pertimbangkan “Rolling Release”

Kernel Team Manager: Leann Ogasawara

Kernel Team Manager: Leann Ogasawara

Pengembang Ubuntu mempertimbangkan kemungkinan sistem peluncuran edisi Ubuntu yang saat ini diperbaharui dua kali dalam setahun menjadi modus “Rolling Release” seperti halnya yang diterapkan pada distribusi Arch Linux, Gentoo, Semplice, Siduction dan Linux Mint Debian Edition (LMDE).

Rencana pengembang Ubuntu yang dipaparkan oleh Kernel Team Manager Leann Ogasawara dari Canonical, untuk berpaling ke modus rawat jalan (Rolling Release) tersebut, sejatinya sudah didiskusikan internal sejak lama.

Sedikit berbeda dengan distro lainnya seperti Arch yang menerbitkan ISO sebulan sekali dengan perbaikan dan peningkatan secara bertahap, maka Ubuntu merilis edisi “All New” Ubuntu berupa versi LTS (Long Term Support) dengan jarak waktu penerbitan setiap 2 tahun sekali dan menberikan dukungan seperti layaknya versi LTS (5 tahun). Antara dua rilis LTS rencananya akan disisipkan dua kali penerbitan, atau satu kali kurang dari apa yang berlangsung sampai saat ini, sementara untuk perawatan setiap saat menyediakan paket-paket software yang mana saja yang secara berkala telah rampung.

Bila rencana ini disepakati, maka mulai penerbitan LTS berikutnya pada Ubuntu 14.04 LTS setiap 2 tahun sekali pengguna memperoleh installer baru, ungkap Leann Ogasawara pada menit ke 40 dalam Video Google Hangout yang dipancarkan via Youtube.

Masih belum jelas adalah dampak dari model rilis rawat jalan ini bila ia jadi diterapkan. Secara teknis, menurut Ogasawara, pelaksanaan Rolling Release tidak ada masalah. Namun, bagaimana nanti reaksi pengguna Ubuntu dan dampaknya terhadap pengembangan Ubuntu selanjutnya, hal itu masih perlu dirembukkan lebih lanjut.

Perawatan berjalan ala “Rolling Release” tersebut, disamping memiliki keuntungan, juga kelemahan. Dengan modus rawat jalan, pengguna akan memperoleh peningkatan software lebih cepat dan lebih dini, tanpa perlu menunggu jadwal rilis berikutnya. Dibalik keuntungan itu, terbuka peluang atas kemungkinan terkontaminasi dengan kekliruan yang tersembunyi pada setiap peningkatan, karena belum menjalani ujicoba yang rinci, seperti pada rilis dengan prosedur regular. Untuk menangkal terjadinya hal semacam itu, diperlukan infrastruktur pengujian baru yang lebih ekstensif. Menurut Ogasawara, pada saat ini di laboratorium pengembangan Ubuntu, setiap hari dilakukan uji coba semacam Smoke Tests, yaitu pengujian dengan beban tinggi untuk mengetahui kehandalan sebuah software yang dikembangkan.

Pengembang “kluwekOgasawara dalam pemaparannya, juga menjebutkan bahwa Ubuntu akan menyediakan kernel versi baru yang ditargetkan untuk dipasang di versi Ubuntu yang lebih kuno. Upaya ini merupakan tindak lanjut dari diskusi para pengembang yang berlangsung di ajang Ubuntu Developer Summit pada bulan Juni 2012 lalu. Sebagai contoh adalah versi kernel Linux 3.6 yang saat ini terpasang di Ubuntu 12.10 telah di port mundur agar bisa dipasang di Ubuntu 12.04 LTS dan kernel ini rencananya merupakan kernel standar pada rilis peningkatan di Ubuntu 12.04.2 mendatang. Dengan demikian, pengguna Precise Pangolin bisa turut menikmati driver-driver versi yang lebih baru yang tertanam di versi kernel-kernel terkini.

Meningkat: Partisipasi Perempuan Pada Proyek Open Source

Terhitung sejak enam tahun terakhir rata-rata satu pengembang perempuan yang bekerja untuk proyek Gnome yang terdaftar di ajang acara Googles Summer of Code (GSoC), namun pada tahun ini jumlah peserta telah meningkat menjadi tujuh pemrogram perempuan terdaftar di GSoC. Hal itu bisa saja terjadi, karena menurut dugaan proyek Gnome, semuanya berkat program khusus “Gnome Outreach Program for Women” yang dilansir di bulan Oktober lalu. Program magang yang khusus ditargetkan untuk kaum hawa itu, didukung penasihat-penasihat (Mentor) yang khusus disediakan untuk memuluskan kontribusi pertama para pengembang perempuan di salah satu proyek komunitas.

Sejatinya, bimbingan dari tim proyek telah dimulai sejak pendaftaran para calon peserta. Peserta telah menerima pengarahan langsung tangan pertama dari proyek tentang langkah-langkah dan teknologi yang harus disiapkan masing-masing peserta. Kecuali itu, peserta juga dijelaskan betapa indahnya bagai seseorang yang bisa memberikan sebuah kontribusi pada proyek software bebas. Dan nantinya bila saatnya magang dimulai, peserta telah berbekal dengan pengetahuan dan semangat yang dibutuhkan untuk menyokong proyek Gnome.

Para pembimbing atau penasehat (mentor) yang akan mendampingi para ibu atau gadis pemrogram tahun ini menulis sangat terkesan akan kinerja yang ditunjukkan para peserta. Peserta Nohemi Fernandez misalnya telah mengimplementasikan papan ketik layar berfungsi penuh untuk Gnome Shell, yang juga dapat digunakan pada tablet. Raluca Elena Podiuc membuat program yang memungkinkan membuat Avatar di Empathy menggunakan Webcam. Sementara Srishti Sethi menciptakan aktifitas yang dapat membantu anak-anak belajar tulisan Braille melalui software pendidikan GCompris.

Sejajar dengan penyertaan perempuan di GGSoC, terdapat delapan peserta perempuan lainnya di proyek Gnome yang magang atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) dalam rangka “Gnome Outreach Program for Women”. Lima diantaranya akan menggeluti bidang dokumentasi dan membangun helpdesk berorientasi tema untuk basis desktop, dan aplikasi-aplikasi Accerciser, Vinagre, Brasero, Cheese seperti juga pada Gnome System Monitor. Disamping untuk dokumentasi Accerciser, Aline Duarte Bessa mengambil alih pekerjaaan lain yaitu daftar kesalahan untuk mendapatkan umpan balik pada semua kesalahan untuk kemudian diperbaiki. Disamping itu, ia juga membantu pembuatan dokumentasi pada proyek pengembangan Assistive Technology Service Provider Interface (AT-SPI).

Meg Ford bekerja dalam melengkapi “High Contrast und High Contrast Inverse Themes” untuk Gnome, dengan membuat 81 Ikon baru dan memperbaiki 241 eksisting. Sementara itu, Yu Liansu menciptakan Gnome Visual Identity Portfolio yang komprehensif dengan karya seni orisinil, Poster, Brosurn, Presentasi dan konsep untuk Web.

Para peserta magang perempuan kali ini datang dari berbagai belahan bumi termasuk Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika dan Australia untuk memulai aktifitasnya pada tanggal 12 Dezember 2011 sampai dengan 12 Maret 2012 di bidang teknologi Gnome, Dokumentasi, Marketing dan Lokalisasi. Semuanya akan bekerja ditempatnya masing-masing dan merekam hasil kerjanya melalui Blog di Planet Gnome. Berkat sponsor dari Collabora, Google, Mozilla, Red Hat dan Gnome Foundation, diharapkan proyek Gnome dapat menampung 12 PKL perempuan pada program yang sama jadwal berikutnya.

Program “Gnome Outreach Program for Women” diorganisasi oleh dewan direksi Gnome termasuk Marina Zhurakhinskaya, Karen Sandler, dan Rosanna Yuen. Sementara kebanyakan pekerjaan diselesaikan oleh para mentor, peserta magang dapat memahami proses kerja sebuah proyek. Peserta diberikan tunjangan untuk 3 bulan magang masing-masing sebesar 5.000 Dolar Amerika yang kali ini dibiayai oleh Gnome Foundation dan Google ( masing-masing untuk 4 PKL), 2 PKL dibiayai oleh Mozilla dan masing-masing 1 PKL oleh Collabora dan Red Hat.

GNOME Galang Partisipasi Perempuan

Program Outreach GNOME untuk Perempuan (GNOME Outreach Program for Women) membuka peluang bagi perempuan yang ingin berpartisipasi atau magang dalam sebuah proyek perangkat lunak bebas (FOSS). Pendaftaran dapat dilakukan segera sampai dengan akhir Oktober 2011. Outreach Program yang digalang dan didanai oleh Yayasan Gnome, berkolaborasi bersama Google dan Mozilla dengan tujuan untuk membantu dalam upaya melibatkan lebih banyak perempuan di proyek-proyek perangkat lunak bebas.

Magang di proyek Gnome ini berlangsung selama tiga bulan mulai 12 Desember 2011 sampai 12 Maret 2012. Para peserta bekerja dari rumah masing-masing dan dibimbing oleh seorang mentor yang berkolaborasi dengan tim proyek dan mendapatkan dukungan dari seluruh komunitas Gnome. Peserta magang misalnya dapat mengembangkan perangkat lunak inti desktop Gnome, manajemen berkas, pesan (messaging), program-program popular, aplikasi pendidikan atau pustaka platform. Kecuali itu, peserta juga dapat berpartisipasi dalam proyek-proyek bukan pemrograman seperti misalnya desain grafis, dokumentasi atau bidang pemasaran.

Terkait dengan aplikasi yang akan diajukan, peminat diharapkan telah menyimak beberapa proyek Gnome sebelum memutuskan keterlibatannya di sebuah proyek yang diinginkan. Selama magang peserta akan menerima imbalan berupa beasiswa sebesar 5.000 US Dollar. Pada putaran terakhir dari program ini diperbolehkan delapan peserta perempuan untuk mengenal pekerjaan di proyek Gnome lebih jauh. Mentor yang selama magang telah memberikan bimbingannya, juga bisa dipertahankan untuk membantu selanjutnya, apabila peserta ingin terus terlibat dalam proyek perangkat lunak. Website Gnome merinci informasi lebih lanjut tentang Outreach Program berikut cara aplikasinya.

Kursus Pengembangan Linux Bersama Debian Women

Penggiat perempuan Debian yang tergabung di proyek Debian Women selenggarkan serangkaian pelatihan pengembangan Linux via IRC dan ditargetkan tidak hanya untuk kaum hawa.

Pelatihan diawali malam ini jam 03:00 WIB Jumat (atau Kamis 20:00 UTC ) yang membahas topik “Introduction to Debian Packaging” dibawakan oleh Lars Wirzenius selama 2 jam. Pelatihan berikutnya adalah “Using Git” dibawakan oleh David Paleino pada hari Jumat tanggal 26 November jam 4:00 WIB (Kamis 25 November 21:00 UTC) dan yang terakhir di sesi ini membahas “Python libraries/application packaging” yang dibawakan oleh Piotr Ożarowski dengan jadwal Jumat 3 Desember jam 3:00 WIB (Kamis 2 December 20:00 UTC)

Sesi pelatihan berlangsung di saluran IRC #debian-women dan diumumkan di halaman Wiki Debian berikut detil pelatihan yang diperlukan.

Debian Women telah berdiri sejak 2004 yang melibatkan pengembang wanita di proyek Debian GNU/Linux. Tujuan yang digariskan [PDF 23 halaman] termasuk untuk mendorong perempuan menjadi pengembang, diversifikasi Debian (sepanjang satu sumbu!), meningkatkan visiblitas wanita di Debian dan mendiskusikan isu-isu yang relevan.

Rekomendasi Kaum Hawa Untuk Komunitas FOSS

Menindaklanjuti pertemuan “Women in Free Software” yang diprakarsai oleh Free Software Foundation (FSF) bersama komunitas Gnome di bulan September tahun lalu, FSF dua hari lalu mengumumkan rekomendasi dari Kaum Hawa disamping menyediakan situs khusus untuk mengumpulkan data lebih lanjut.

Hasil dari kegiatan tersebut termasuk menggalang “Best Practices” terhadap proyek yang ada, strategi untuk meningkatkan partisipasi wanita, inisiatif untuk dukungan finansial, seperti juga saran yang fokus terhadap masalah bagaimana memungkinkan para gadis dan ibu sejak dini bisa dikaitkan dengan dunia software bebas. Semua rekomendasi dari FSF itu pada prinsipnya ditargetkan baik kepada grup dari proyek-proyek FOSS, User Groups maupun perusahan agar meningkatkan jumlah partisipasi kaum hawa di lingkungan masing-masing.

Grup “Women’s Caucus” atau “Kaukus Wanita” yang dibentuk peserta saat itu adalah yang kali ini menyampaikan hasil daftar investigasi masalah “Wanita dan FOSS” menyebutkan sebagai biang keroknya antara lain tiadanya bentuk untuk peran mereka (wanita) di komunitas, seperti juga strategi bagaimana mensiasati kekurangan itu. Strategi yang dianjurkan FSF antara lain: mendorong menjadi kontributor non-coding, lebih menekankan kerjasama daripada persaingan dan (jika perlu) melaksanakan program mentoring. FSF juga menyadari adanya sindrom di kalangan kaum wanita yang merasa masuk atau berada ditempat yang salah bila duduk diantara penggiat software bebas.

Khusus di komunitas sistem operasi Linux, tema bagaimana membuat kaum hawa tertarik terhadap Linux bukan merupakan hal yang baru. Sejak tahun 2002 tersedia panduan resmi membahas “HOWTO Encourage Women in Linux“. Organisasi nasional “KLUWEK” menampung kaum ibu untuk berperan di Linux juga telah terbentuk di Indonesia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 179 pengikut lainnya.