Google Pantau Perubahan Hutan Secara Real Time

Google melalui situs organisasi pemantau hutan GlobalForestWatch.org menawarkan peta dunia terkait dengan perubahan yang terjadi pada pohon-pohon yang ada di dunia secara real-time. Lapisan informasi yang ditawarkan, disamping proses penebangan (loss) maupun rehabilitasi (gain) real-time, juga jenis pemanfaatan pembukaan lahan hutan seperti Logging, Mining, Oil palm, Plantasi wood fiber (bahan kertas).

Perubahan Hutan Secara Real Time

Mudah Membangun Apps Gunakan Android Studio

Di ajang Google I/O, pertemuan para pengembang yang berlasung di San Francisco, 15-17 Mei 2013, tim dari Google memperkenalkan Android Studio, yaitu sebuah IDE (Integrated Development Environment) untuk membangun aplikasi Android. Android Studio berambisi meningkatkan lebih lanjut lingkungan pengembangan terpadu (IDE) Android yang ada, agar lebih baik dan lebih mudah digunakan, sekaligus menggantikan sistem berbasis Eclipse yang digunakan sekarang. Android Studio menjanjikan penampilan App-Layouts yang lebih baik dibandingkan Eclipse, disamping lebih mudah menghasilkan kode pemrograman yang diinginkan, terutama dengan mengintegrasikan beragam antarmuka baru untuk komponen Android.

android_studio_presentation_640

Dengan jumlah lebih dari 900 juta (Mei 2013) perangkat Android yang telah diaktifkan saat ini, platform Android yang ditenagai kernel Linux ini merupakan sistem operasi perangkat bergerak yang paling banyak digunakan dan merupakan pasar terluas yang sangat menarik bagi para pengembang aplikasi perangkat bergerak. Pada bulan yang sama satu tahun sebelumnya (2012) jumlah instalasi Android tercatat 400 juta unit.

android_studio_konsol_640

IDE yang anyar ini adalah berbasis sistem IntelliJ, namun ia juga tersedia dalam versi bebas tanpa biaya berupa Community Edition. Banyak detil saat ini yang belum dirinci, namun diharapkan dalam rangkaian Developer-Sessions di Google I/O akan terungkap lebih banyak.

Diantara banyak antar muka yang tersedia, adalah termasuk sebuah Location-API yang lebih baik, yang memungkinkan sebuah Apps tidak sekedar bekerja lebih cepat dan efisien untuk mengetahui posisi dimana Smartphone tersebut sedang berada, namun juga diperoleh informasi apakah perangkat Android tersebut sedang digendong oleh pemiliknya sambil berjalan kaki, naik sepeda atau naik mobil. Hal ini merupakan bagian dari fitur GeoFencing, yang secara virtual dapat memagari wilayah ruang gerak sebuah perangkat smartphone tersebut. Kecuali itu tersedia fitur agar pengguna nantinya bisa registrasi pada sebuah App menggunakan Google+, serupa dengan Facebook-Logins yang telah umum digunakan, dan dengan bantuan sebuah PC dapat memilih Single-Sign-On menggunakan Google+ yang sebagai App kemudian dapat dipasang di Smartphone. Fitur antar muka lainnya adalah Google Cloud Messaging yang menyulap sebuah smartphone Android menjadi semacam service provider untuk layanan Push Notifications.

Fitur Gamer juga mendapatkan dukungan melalui Google Play Games yang memberi kemudahan dalam menciptakan permainan Multiplayer, dengan fitur yang dapat menyelaraskan (sync) status permainan dengan perangkat lainnya secara daring (online).

Developer Console seperti sebuah dash board juga membantu pengembang dalam banyak hal, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas Apps yang dikembangkannya. Google juga menampilkan saran-saran untuk mengoptimalkan Apps, termasuk menyediakan sebuah App Translation Service, yaitu sebuah pasar dimana pengembang dapat mencari dan menawarkan jasa penterjemahan ke berbagai bahasa.

Google Analytics juga tersedia untuk Apps yang nantinya mendata bagaimana para pengguna memanfaatkan Apps tersebut, seperti juga statistik tentang dari saluran mana dan berapa jumlahnya instalasi yang telah dilakukan pengguna. Demikan juga Revenue Graphs akan merinci lebih detil lagi mengenai data penghasilan pengembang, dibandingkan dengan yang telah tersedia sekarang.

Android 3.2 “Honeycomb” Dirilis

Direktur pengembangan Xavier Ducrohet mengumumkan rampungnya platform sistem operasi mobile Android 3.2. SDK (Software Development Kit) terkait termasuk emulatornya juga telah disediakan dan siap untuk diunduh.

Seperti pendahulunya, versi baru sistem operasi seri 3 “Honeycomb” unggulan Google ini ditargetkan untuk perangkat tablet. Diantara perbaikan untuk pengembang dan pengguna yang disebutkan Ducrohet adalah “Compatibility Mode” baru untuk memperbesar tampilan dari aplikasi-aplikasi yang umumnya diprogram untuk resolusi layar lebih kecil. Dengan demikian, maka aplikasi smartphone kini bisa ditampilkan lebih baik pada layar tablet dibandingkan kemampuan zoom yang digunakan sebelumnya dengan hasil kurang memuaskan.

Pengembangnya kali ini juga memperluas dukungan terhadap lebih banyak hardware, terutama untuk tablet ukuran 7 inci. Menggunakan fungsi “Media sync from SD card”, Apps bisa langsung mengakses berkas Multimedia yang disimpan di kartu SD.

Beberapa perubahan terdapat pada antarmuka pemrograman dengan penempatan level API di level 13. Melalui “Extended screen support API”, pengembangnya diberikan kebebasan untuk mengatur lebih banyak dalam hal menampilkan aplikasinya agar bisa pas dengan ukuran layar tablet yang beragam. Perbaikan juga pada output video yang telah mendukung format 720p.

Detil dari semua pembaruan dirinci di dokumentasi untuk Android 3.2 yang diterbitkan bersama rilis ini. Para pengembang bisa langsung memanfaatkan SDK yang telah tersedia, sementara untuk pengguna silakan menunggu update dari vendor hardware masing-masing. Beberapa vendor telah mengindikasikan rencana rilis produk baru yang mengemas Android 3.2 sebagai sistem operasinya, seperti halnya dilaporkan untuk Motorola dilaporkan disini dan sebuah tablet 7 inci dengan Androuid 3.2 juga sudah diperkenalkan Huawei di ajang pameran CommunicAsia di Singapura baru-baru ini.

Android Untungkan Microsoft 5 Kali Lebih Banyak

Berdasarkan laporan analis Walter Pritchard dari Citibank, Microsoft diduga menerima pendapatan dari penjualan smartphone Android buatan HTC berupa pungutan lisensi sebesar 5 dollar per hape dan pemasok smartphone lainnya barangkali dipungut lebih tinggi atau paling tidak sama.

Dengan perhitungan bahwa jumlah smartphone Android besutan HTC terjual sebanyak 30 juta buah, maka penerimaan dari HTC saja diduga telah mencapai 150 juta dollar atau lima kali dari jumlah penerimaan yang dihasilkan dengan penjualan Windows Phone 7 yang diperkirakan jumlahnya sebanyak 2 juta buah.

Memang diakui bahwa Android berlandasan Linux telah menguasai pasar smartphone di Amerika, terdepan diantara sistem operasi mobile yang ada saat ini dan secara teoretis seharusnya bebas pungutan lisensi (pungli), namun Microsoft lebih cepat tanggap dan menemukan bahwa smartphone yang ditanamkan Android telah mengandung banyak komponen yang di USA hak paten-nya telah didaftarkan oleh Microsoft sebagai pemiliknya.

Agar tidak dituntut, sudah sejak lebih dari satu tahun HTC menandatangani perjanjian dan membayar pungutan yang disepakati. Hal yang sama disusul oleh pembuat smartphone Android lainnya dan bila tidak, mereka terancam diseret ke meja hijau. Kasus yang dialami toko buku Barnes & Noble berkaiten dengan Android merinci bagaimana sebuah proses negosiasi perjanjian semacam itu berlangsung.

Studi dari Citibank yang tidak merinci lebih detil tentang pembayaran yang dilakukan oleh HTC untuk memenuhi perjanjian tersebut, menduga bahwa Microsoft belum puas dengan tarif yang disepakati sebelumnya dan untuk pemasok smartphone Android lainnya mematok tarif lebih tinggi, namun dugaan seperti itu dalam kasus dengan HTC, seperti dikutip dari pemberitaan Bloomberg ternyata tidak dapat dikonfirmasi.

Semetara itu Business Insider menjebutkan hal yang sedikit berbeda dan mengidikasikan bahwa HTC bukan satu-satunya perusahan yang membayar pungli untuk pemanfaatan Android dan mengutip laporan yang diterbitkan Pritchards menyebutkan tarif lisensi antara 7,50 sampai 12,50 dollar untuk setiap perangkat Android.

Sebuah analisa yang dilakukan Florian Müller di Blognya Foss Patents menyebutkan bahwa dari 44 pertikaian atau tuntutan sejak Maret 2010 terkait dengan Android dan Google ditemukan hal yang spesial, bahwa bukannya “patent-trolls” menjadi inti permasalahan, melainkan raksasa TI seperti Microsoft, Oracle dan Apple diduga ingin menghasilkan uang dari hak atas pungutan lisensi terhadap Android.

Summer of Code 2011: 1.116 Mahasiswa Terima Beasiswa Dari Google

Perusahan mesin pencari nomor satu Google dalam rangka penyelengaraan acara Summer of Code (GSoC) 2011 luluskan aplikasi beasiswa untuk 1.116 Mahasiswa untuk melakukan pemrograman selama 3 bulan yang di alokasikan di 175 proyek-proyek software sumber terbuka yang bebas.

Acara GSoC yang diadakan Google sejak tahun 2005 menyediakan beasiswa sebesar 5.000 US Dollar untuk masing-masing mahasiswa yang diterima dan bergabung sebagai pengembang beragam proyek Open Source. Pengembang yang diterima dikaryakan selama beberapa minggu untuk proyek nyata yang realistis termasuk dalam pembuatan fitur-fitur baru. Untuk setiap proyek, Google menyiapkan Mentor sebagai pembimbing dan memberikan dukungan disamping bertugas me-motivasi dan mengevaluasi hasil karya para peserta. Sejak kali pertama acara Summer of Code tahunan ini diadakan, Google telah memberdayakan sekitar 4.500 Mahasiswa dari 85 negara yang dilibatkan di lebih dari 300 proyek-proyek Open Source.

Acara tahun ini akan melibatkan 1.116 perserta dan 175 proyek-proyek Open Source yang dijadwalkan mulai tanggal 23 Mei 2011. Sampai hari (start GSoC) itu, akan dilakukan koordinasi bersama Mentor masing-masing peserta.

Pembayaran beasiswa akan diangsur dan diawali pada saat acara dimulai dengan uang muka sebesar 500 USD disusul pertengan Juli sebesar 2.250 USD dan pada penutupan GSoC akhir bulan Agustus ditransfer sebesar 2.250 USD. Mentor Summit yang direncanakan di bulan Oktober tahun yang sama, akan mendiskusikan hasil evaluasi, menampung saran perbaikan dan pertukaran pengalaman selama GSoC berlangsung.