VBB OpenStreetMap Tingkatkan Layanan Transportasi Publik

Salah satu contoh positif pemanfaatan peta open source OpenStreetMap adalah peta hidup (LiveMap) bagi warga pengguna “Jaringan Transportasi Terpadu VBB” (Verkehrsverbunds Berlin Brandenburg) yang beroperasi di wilayah negara bagian Berlin dan Brandenburg di Jerman. Peta hidup yang telah daring tersebut, mempublikasikan kepada warga pengguna angkutan umum, data posisi dari setiap angkutan umum melalui internet yang mudah diakses via ponsel pintar secara real-time.

Peta Hidup VBB 2014-02-18

Walaupun jadwal keberangkatan kendaraan umum pada setiap halte di negara tersebut cukup akurat, kehadiran peta hidup sangat membantu warga dalam mengoptimal waktu perjalanan mereka  lebih efisien dan efektif. Menggunakan peta hidup berbasis OpenStreetMap yang diluncurkan dinas transportasi VBB, ditawarkan data real-time dari beberapa operator transportasi yang satu dengan lainnya “nyambung”, tentang posisi keberadaan dan pergerakan setiap bus, kereta api maupun feri yang sedang beroperasi.

Pengguna yang ingin mendapatkan gambaran tentang lalu lalang kendaraan umum di sekitarnya, maka penampilan peta hidup semacam ini sangat berguna. Dari pada menelusuri jadwal tertera di halte, buku atau situs yang statis, pengguna segera dapat mengambil keputusan menuju halte alternatif yang paling tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Secara real-time juga diperhitungkan keterlambatan dan laju perjalanan dari kendaraan yang diinginkan.  Simak Lalu lintas kendaraan umum di Berlin saat ini secara real-time.

Informasi yang disediakan peta dinamis VBB di kota Berlin, termasuk semua perjalanan transportasi publik saat ini, meliputi 13.000 halte dan stasiun pemberhentian dari sekitar 1.000 trayek di lingkungan VBB terdiri dari kereta regional, S-Bahn (kereta dalam kota), U-Bahn (kereta bawah tanah), trem, bus, feri, termasuk juga transportasi kereta jarak dari dan menuju ke Berlin.

Kecuali itu, peta hidup yang masih berstatus beta ini juga menampilkan jadwal dan ketepatan waktu berhenti di setiap halte. Posisi perjalanan kendaraan yang ditampilkan secara real-time diperhitungkan berdasarkan posisi antara dua halte yang sedang ditempuh.

Platform FixMyStreet: Bantu Pemda Muluskan Jalan Keriting

“Perbaiki JalananKu!” atau Platform FixMyStreet adalah sebuah proyek open source yang dapat membantu dinas pekerjaan umum, komunitas atau siapa saja yang peduli untuk membangun website untuk melaporkan masalah infrastruktur, seperti jalan umum yang “keriting” atau berlubang dan lampu jalan yang padam atau rusak, kepada instansi yang berwenang, sementara tindak lanjutnya dapat dipantau masyarakat.

Perbaiki Jalanan-ku

Pengguna melokalisir masalah menggunakan data, kombinasi dari alamat dan pin yang menandai peta tanpa khawatir tentang proses selanjutnya dan penyampaian pada otoritas sudah benar. FixMyStreet kemudian memroses untuk memungkinkan otoritas atau dinas perbaikan mengidentifikasi jenis masalah dan memprioritaskan menggunakan data lokasi. Hal ini dilakukan dengan mengirimkan laporan, melalui email atau menggunakan layanan web seperti Open311. Intinya, masalah yang dilaporkan adalah transparan dan terlihat oleh semuanya, sehingga masyarakat dapat memantau apakah sesuatu yang telah dilaporkan juga mendapatkan update dari otoritas yang bertanggung jawab. Pengguna juga dapat berlangganan email atau RSS alert yang berkaitan dengan masalah di wilayah mereka masing-masing.

Sistem ini diciptakan pada tahun 2007 oleh lembaga nirlaba mySociety di Inggris dan telah ditiru oleh banyak institusi di seluruh dunia. Platform sumber terbuka FixMyStreet di-inangkan di lumbung GitHub di bawah lisensi GNU/GPL Affero dan saat ini mencapai versi 1.3. mySociety merupakan proyek e-demokrasi terdaftar di Inggris bernama UK Citizens Online Democracy, yang bertujuan untuk membangun alat daring (online) yang terfokus pada masalah kemasyarakatan dengan dampak luring (offline).

NUUG (Norwegian Unix User Group) mendanai pengembangan versi Norwegia yang diluncurkan dalam bentuk layanan “FiksGataMi” pada tahun 2011, yang juga didasarkan pada layanan FixMyStreet besutan mySociety tersebut diatas. Platform open source FixMyStreet dengan kode sumber terbuka, memudahkan adopsi dan memiliki kempuan menangani peta yang berbeda, termasuk OpenStreetMap.

FixMyStreet telah mengilhami situs serupa di negara lain dan diadopsi di secara global termasuk:

Platform dengan fokus pemberdayaan konten partisipasi masyarakat, yang sifatnya lebih universal juga dikembangkan komunitas BlankOn di Indonesia. Geo.BlankOn adalah platform yang memfasilitasi kegiatan gotong royong digital dalam mengembangkan gugus perangkat lunak dan data geospasial. Platform Geospasial menggunakan peta berlandasan OpenStreetMap ini mendukung beragam sistem operasi dan platform perangkat keras, termasuk perangkat mobile (Android, iOS, BlackBerry 10). Menggunakan Geo.Blankon, dapat dikembangkan beragam aplikasi yang mendukung “konten partisipasi masyarakat” dengan menyediakan berbagai macam data berbasis lokasi seperti titik wisata, titik pelayanan publik, titik banjir, titik kemacetan di jalan raya, pos-pos tilang, serta beragam informasi yang berguna lainnya, dari dan untuk publik.

Kominfo Kembangkan Distro Pemerintah Dalam Rangka Pemberdayaan Industri TIK

Dalam Forum Diskusi, yang diselengarakan Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika di Hotel Morrissey Jakarta, pada 9 Desember 2013, disosialisasikan tekad Kominfo untuk mengawali pengembangan Distro Pemerintah.

Disamping untuk memenuhi kebutuhan di sektor Pemerintahan, Distro Linux yang akan dikembangkan, sekaligus merupakan bagian dari upaya untuk memberdayakan industri TIK. Pertemuan yang menghadirkan wakil dari sejumlah perusahan TI, termasuk Microsoft Indonesia, diharapkan dapat turut mengambil perannya dalam membangun ekosistem yang lebih baik.

2013-12-09_Kominfo_Diskusi_Distro_Pemerintah_880

Software bebas dan open source (F/OSS) telah menawarkan sebuah platform legal dengan biaya rendah, bersama kode sumber yang terbuka memiliki “entry barrier” rendah. Hal ini memungkinkan perusahaan “start-up” lebih mudah untuk memulai sebuah bisnis di dalam ekosistem industri TIK. Keunggulan teknologi dan standarisasi yang dimilikinya, juga mempermudah para pengusaha muda untuk bersaing di pasar Internasional.

Sebagai payung besar adalah tekad bersama untuk melakukan perubahan dari “Negara Konsumen ke Negara Produsen.” Untuk hal itu, diperlukan tidak hanya semangat yang bulat, namun kebersamaan untuk mendorong terciptanya produk-produk yang dibuat oleh anak bangsa, baik berupa produk fisik (hardware) maupun virtual, berupa layanan, termasuk software dan kombinasi berupa perangkat devais yang dapat dijadikan bagian dari industri TIK.

Peranan software bebas dan open source (F/OSS) di dalam ekosistem industri TIK, secara singkat disimpulkan, bahwa dengan perencanaan yang baik dan pelaksanaan yang konsisten, kehadiran F/OSS beserta distro pemerintah, diyakinkan dapat memberikan kontribusi yang nyata untuk memberdayakan industri TIK. Baca selebihnya (PDF 125kb)

OSS Malaysia MAMPU Hasilkan 1.9 Triliun Rupiah

MAMPUImplementasi Open Source Software (OSS) di sektor publik di negeri jiran sejak tahun 2004 telah menghasilkan tidak kurang dari 1.9 Triliun Rupiah (RM595 juta) pendapatan. Data tersebut dikutip dari kantor berita resmi Malaysia yang meliput pernyataan direktur MAMPU (Malaysia Administrative Modernisation and Management Planning Unit) Datuk Wira Omar Kaseh.

Implementasi OSS telah mendorong pengembangkan 36 perusahaan Malaysia berstatus MSC yang memberdayakan 6.206 tenaga ahli, dimulai sejak tahun 2004 dengan peluncuran Masterplan OSS Sektor Publik dan pembentukan pusat kompetensi Open Source atau OSCC (OSS Masterplan for the Public Sector and the establishment of the Open Source Competency Centre), disamping memangkas biaya pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), juga untuk meningkatkan kualitas layanan masyarakat, meningkatkan pengembangan sumber daya manusia, mendorong pertumbuhan tenaga ahli, dan untuk meningkatkan perkembangan industri TIK lokal.

Prestasi implementasi OSS di sektor publik yang disebutkan luar biasa itu, telah mencapai 99,6 persen atau pada 921 instansi pemerintah yang menurut perhitungan mampu menghemat sekitar 1.2 triliun rupiah (RM370 juta). Sementara itu, institusi Multimedia Development Corporation (MDeC) menyebutkan bahwa implementasi OSS di negeri jiran telah menciptakan nilai ekspor, tidak kurang dari tiga per empat triliun rupiah atau RM234 juta.

Kecuali meningkatkan jumlah PNS yang trampil dan bersertifikat OSS sebanyak  7.300 staf yang mengikuti pelatihan OSCC dan 96 yang menerima sertifikat OSS, menurut Omar terdapat sebanyak 16 penyedia pelatihan bersertifikat dari lingkungan universitas yang telah ditunjuk untuk menyediakan pelatihan untuk memungkinkan pegawai negeri sipil mengejar pendidikan tinggi di universitas.

Untuk mengatasi agar “upaya” tidak menjadi tumpang tindih, disamping membantu menyelamatkan dana pembangunan pemerintah dan meningkatkan kompetensi personil dalam bidang TIK dengan fokus pada pelayanan masyarakat, maka OSCC telah mengembangkan 10 produk generik untuk diadopsi oleh sekitar 724 instansi pemerintah secara cuma-cuma. Produk yang dimasud adalah MySpamGuard, MySuftGuard, MyNetWatch, MyWorkspace, MyDesktopManager, MySurveillance, MyTaskManager, MyMesyuarat, MyBooking dan MyDocManager.

Bekerjasama dengan Kementerian Keuangan, telah dibentuk Panel Pemasok Produk Layanan OSCC untuk membantu peningkatan implementasi OSS dan memperluas adopsi produk OSCC di instansi pemerintahan. Panel ini nantinya akan menyediakan berbagai produk layanan OSCC seperti promosi, pelatihan, implementasi, upgrade aplikasi, dukungan teknis serta penelitian dan pengembangan yang akan meningkatkan nilai tambah industri TIK lokal, termasuk peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional negara tersebut.

Sumber dan selengkapnya disini..

InaSAFE: Filipina Adopsi Software Open Source Buatan Indonesia

Prediksi Banjir (Sumber: BNPB)

Prediksi Dampak Banjir DKI (Sumber: BNPB)

Departemen Sain dan Teknologi Filipina (DOST) mengungkapkan rencana untuk mengadopsi InaSAFE (Indonesia Scenario Assessment for Emergencies), yaitu perangkat lunak berbasis open source untuk perkiraan dampak bencana secara cepat yang dikembangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Teknologi mitigasi bencana buatan Indonesia ini, rencananya akan digunakan untuk proyek lembaga Nationwide Operational Assessment of Hazard (NOAH) dalam upayanya untuk meningkatkan perencanaan dan kesiapsiagaan terhadap bencana di wilayah Filipina.

Mengutip pernyataan resmi dari situs DOST, NOAH akan mengadopsi InaSAFE buatan Indonesia karena memiliki banyak kesamaan dengan Filipina, terutama dalam hal topografi dan bencana alam.

Petugas bidang bencana dan manajemen risiko dari Bank Dunia Asia Timur dan Pasifik, Abigail Baca mengatakan bahwa InaSAFE terbukti efektif selama banjir di Jakarta baru-baru ini, dan hal yang sama dapat pula diterapkan di Filipina.

Sementara itu, Dr Alfredo Francisco Mahar Lagmay dari Proyek NOAH mengungkapkan bahwa InaSAFE akan diintegrasikan ke dalam Proyek NOAH untuk melengkapi teknologi yang sudah ada, dan digunakan untuk mengurangi, jika tidak benar-benar mencegah, kerusakan besar yang disebabkan oleh topan kuat seperti badai tropis Washi pada tahun 2011 dan Bopha pada bulan Desember 2012.

Tentang InaSAFE:
INDONESIA SCENARIO ASSESSMENT FOR EMERGENCIES (InaSAFE) adalah perangkat lunak bebas dan sumber terbuka (FOSS) yang menghasilkan skenario realistis terhadap dampak dari bahaya bencana alam, dan dapat digunakan untuk melakukan perencanaan yang lebih baik, kesiapsiagaan dan aktifitas tanggap darurat. Perangkat ini dikembangkan bersama Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) dan World Bank serta meraih penghargaan Rookie of The Year 2012 dari Black Duck.

InaSAFE menyediakan cara sederhana guna menggabungkan data dari ilmuwan, pemerintah daerah dan masyarakat untuk memberikan wawasan ke dalam kemungkinan dampak peristiwa bencana. Perangkat juga mampu melakukan penilaian secara rinci terhadap dampak bencana yang akan terjadi pada sektor-sektor tertentu, misalnya lokasi sekolah dasar dan perkiraan jumlah peserta didik yang terkena Tsunami.

Proyek InaSAFE menggunakan bahasa pemrograman Python dan dibangun di atas proyek Open Source Geographic Information System: QuantumGIS (QGIS) sebagai plugin QGIS. InaSAFE dirancang sebagai platform extensible yang dapat digunakan untuk menilai dampak dari setiap jenis bencana, yang didukung oleh data populasi geografis dari hampir semua geografi. Software Open Source InaSAFE tersedia di GitHub.

LKPP dan AOSI Kembangkan Sistem e-Procurement Secara Terbuka

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sepakat menjalin kerja sama dengan Asosiasi Open Source Software (AOSI) untuk membangun sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah “generasi baru” secara terbuka. Bersama sistem yang dibangun secara terbuka, baik dari sisi pemrograman maupun proses bisnisnya, diharapkan tersedia sebuah sistem transparan yang lebih mudah dipantau publik.

aosi_lkpp1_20130520_640

Nota kesepahaman pengembangan SPSE (Sistem Pengadaan Secara Elektronik) v.5 Berbasis Komunitas ditandatangani oleh pimpinan kedua lembaga, ketua LKPP Bapak Agus Rahardjo dan ketua AOSI Ibu Betti Alisjahbana, di Hotel Bidakara Jakarta, Senin (20-05-2013) bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ke 105.

Lewat kerjasama dengan AOSI, ketua LKPP Agus Rahardjo mengatakan, bahwa semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dapat berkontribusi dalam pengembangannya dan melakukan pengawasan terhadap pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah.

Dari sekitar 400 Triliun Rupiah dana yang dibelanjakan pemerintah setiap tahunnya, jumlah pengadaan pemerintah yang diproses menggunakan SPSE pada tahun 2012 baru sekitar 138 Triliun, dan menurut LKPP telah berhasil menyelamatkan pengeluaran pemerintah sebesar 15 Triliun. Pada saat ini baru 571 instansi pemerintah dan BUMN yang menggunakan SPSE, yang nyaris seluruhnya telah memanfaatkan teknologi Open Source, menggunakan sistem operasi Linux (beragam distribusi) kecuali satu server yang menggunakan Solaris. Di lingkungan pemerintahan negara-negara ASEAN, LKPP berhasil dua kali mendapatkan penghargaan dari FutureGov dan terpilih sebagai pemenang di kategori Technology Leadership.

aosi_lkpp2_20130520_640

Kerjasama kedua pihak meliputi pengembangan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) versi 5, yang rencananya akan diluncurkan pada tahun 2014. Sementara sistem yang ada belum dianggap optimal (mengelektronikkan prosedur manual), SPSE dengan konsep baru ini diharapkan mampu memangkas semua prosedur lama yang kurang efektif, sekaligus membantu peserta lelang meninimalkan biaya pengadaan yang pada ujungnya berdampak positif bagi semua pihak.

Tentang LKPP:
Sebagai sebuah lembaga kebijakan, fokus utama LKPP adalah mengembangkan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibagi dalam 4 fungsi utama, yaitu (1) menyusun regulasi, (2) mengembangkan SDM pengadaan, (3) mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi serta e-Procurement, dan (4) bimbingan teknis, advokasi, serta bantuan hukum.

Tentang AOSI:
AOSI adalah asosiasi berbadan hukum menghimpun organisasi-organisasi pencinta, penggiat, pengembang, pemakai, pendidik, pelaku bisnis dan semua pendukung Open Source skala nasional yang bekerja sama, bahu membahu membangun sinergi guna mencapai sukses bersama. Diresmikan dan berdiri sejak 30 Juni 2008, AOSI merupakan asosiasi yang sah dan memiliki sejumlah program terencana untuk mendorong pengembangan teknis dan bisnis Open Source di Indonesia. AOSI melibatkan pihak pemerintah membahas program dan regulasi guna meningkatkan akselerasi perkembangan pemanfaatan Open Soure di semua lapisan masyarakat NKRI.

Debian Squeeze Bantu Astronaut Berselancar Di Angkasa Luar

nasa_logo_640Laptops dengan Debian GNU/Linux 6 alias Squeeze akan digunakan di stasiun angkasa luar “International Space Station” (ISS) menggantikan Windows dan Scientific Linux.

Sistem operasi Linux Debian utamanya akan digunakan antara lain untuk membantu para astronaut yang bekerja di stasiun angkasa luar internasional (ISS). Hal tersebut diungkapkan oleh pimpro Keith Chuvala (NASA) dan Linux Foundation, sementara United Space Alliance bertanggung jawab atas infrastruktur jaringan komputer bergerak di ISS.

Semua laptops termasuk yang nantinya ditenagai dengan Linux Debian memiliki akses ke Internet, memungkinkan para Astronaut mengirimkan twitter dan menerima email seperti warga penghuni dunia lainnya. Disamping data yang relevan untuk tugas misi angkasa luar, laptop yang digunakan masing-masing astronaut dapat digunakan untuk pribadi seperti berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya via internet.

Sebagaimana dipaparkan Chuvala, alasan NASA berpaling terutama karena stabilitas dan keandalan Debian GNU/Linux. Disamping kemudahan bagi tim mereka untuk melakukan patch bila diperlukan, Debian juga diyakini lebih gampang untuk disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing Astronaut.

international-space-station_linuxmagazine_640

Walaupun dari sisi jumlah, awalnya tidak lebih dari 6 laptops yang akan dibawa ke angkasa luar, namun keandalan dari masing-masing laptop harus terjamin dan perlu penyesuaian dengan kebutuhan setiap astronaut yang bekerja di ISS. Kriteria yang tidak dapat ditawar tersebut juga merupakan alasan untuk memberdayakan Debian 6 Squeeze sebagai pengganti Windows dan Scientific Linux. Komputer-komputer jinjing tersebut diperlukan oleh para astronaut untuk aneka tugas seperti untuk mengelola inventaris atau untuk mengetahui posisi dimana Stasiun Angkasa Luar (ISS) yang mereka tumpangi sedang berada.

Pimpro Keith Chuvala adalah penanggung jawab untuk bidang “Space Operations Computing” (SpOC) di NASA, yang juga mengurus sistem jaringan “OpsLAN” dari United Space Alliance, yang menghubungkan semua komputer di stasiun ISS. Pelatihan untuk para astrounaut dalam bidang pemrograman, pengeloaan sistem (SysAdmin) dan penggunaan sistem operasi Linux, pelaksanaannya diserahkan kepada Linux Foundation.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 180 pengikut lainnya.