COS: Pemerintah China Sponsori OS Mobile

Cina telah meluncurkan sistem operasi untuk ponsel cerdas (smartphone), tablet, PC dan set-top box yang disponsori pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap monopoli perangkat lunak asing.

China Operating System

Sistem operasi anyar yang diberi nama China Operating System (COS) ini, menggunakan Linux sebagai basis, dan dikembangkan sebagian besar berdasarkan pedoman dari pemerintah yang direliasasikan melalui Chinese Academy of Sciences (ISCAS) dan perusahaan Shanghai Liantong. Perusahaan Taiwan HTC juga disebutkan telah membantu merancang dan menyampaikan bantuan praktis. Sebuah App Store yang saat ini telah dibekali sekitar 100.000 aplikasi, pada kesempatan yang sama juga dibuka secara simultan.

Upaya ini bukan yang pertama kali dilakukan oleh China untuk mengembangkan sistem mobile nasional, namun sejauh ini belum ada yang mampu bertahan. Percobaan yang paling terkenal mungkin adalah OMS (Open Mobile System) atau OPhone yang diluncurkan China Mobile, operator seluler terbesar di dunia pada tahun 2009 dan telah mati suri sejak 2010. Pada saat ini masih eksis dengan aplikasi yang jumlahnya tidak lebih dari 600.

Bersama peluncuran COS yang diduga dibangun sepenuhnya secara mandiri berdasarkan kode pemrograman Linux, China ingin kali ini, tidak sekedar menangkal ketergantungan terhadap Google dan Apple, melainkan juga untuk menyediakan lokalisasi yang lebih baik, termasuk sistem pengenalan suara dan integrasi yang lebih sempurna. Di sisi lain, pemerintah China nantinya dapat lebih mudah mengontrol konten mobile internet yang diakses masyarakat. Kode sumber COS tidak diungkapkan seperti lazimnya pada sistem open source, dengan dalih keamanan.

Pimpinan Chinese Academy of Sciences, Li Shuming,  menyayangkan bahwa iOS merupakan sistem operasi yang tertutup, sementara Android disebutkan sangat menderita dalam fragmentasi, sedangkan Windows Phone dianggap tidak cukup aman. Kecuali itu, sistem operasi open-source seperti Ubuntu dan Android disebutkan masih belum memenuhi kreteria keamanan yang diinginkan, di mana terdapat beberapa kerentanan tersembunyi yang memungkinkan pihak lain mengontrol perangkat mobile.

COS Tablet

Kendati demikian, menurut portal berita Engadget China, perangkat-perangkat yang dipamerkan pada perhelatan di Beijing tersebut, sangat mirip dengan smartphone dan tablet yang ditenagai Android. Andaikan COS nantinya dapat memikat pengguna di China secara luas, maka sistem operasi ini akan menjadi OS nasional yang kedua disamping UbuntuKylin yang diluncurkan satu tahun sebelumnya.

Google Siapkan Backend Untuk Aplikasi Mobile di Awan

Banyak aplikasi mobile terbaik yang ditenagai oleh layanan dari cloud, seperti halnya disebutkan Pulse dan SongPop yang telah lama menikmati keuntungan berupa kenyamanan dan skalabilitas yang ditawarkan oleh platform awan dari Google. Sekarang Google menambahkannya dengan layanan “Mobile Backend Starter” dengan tujuan untuk lebih memudahkan lagi bila diperlukan memberdayakan layanan awan berupa “cloud services” dalam aplikasi yang akan dikembangkan.

Di ajang konferensi Googles I/O belum lama berselang, telah diungkapkan tentang rencana itu, dan kini direalisasikan berupa ketersediaan dari “Mobile Backend Starter” bebas digunakan untuk publik. Dibalik nama tersebut adalah sebuah Backend yang mendukung aplikasi mobile dan sebuah kerangka kerja atau framework untuk Android di sisi klien yang semuanya ditulis dalam bahasa Java.

google-mobile-backend-arch_640

Penawaran dari Google ini ditargetkan terutama untuk para pengembang yang tidak ingin banyak membuang waktunya untuk menulis sendiri kode pemrograman untuk fitur Backend. Backend Starter terdiri dari sebuah Server, dimana tersimpan Data dengan “App Engine”-nya, termasuk sebuah pustaka dan contoh penggunaanya di Android. Andaikan masih perlu adanya penyesuaian, maka kode sumbernya bisa digali di lumbung pemrogram GitHub.

Kecuali itu, juga dimungkinkan untuk mengintegrasikan fitur “Google Cloud Messaging” dan sebuah mekanisme otentifikasi dari Googles, yang tak hentinya jalan di server berikut pembaruan (update) yang secara otomatis diteruskan ke klien.

Manager Produk Brad Abrams memaparkan dalam blognya, bahwa Mobile Backend Starter disediakan agar produk dapat dibuat mudah hanya dengan klik saja, namun ia tetap menyarankan agar pengguna memeriksa penjelasan tersedia, tentang cara menyiapkan dan menyesuaikannya, paling tidak saat awal penggunaannya. Silakan menyimak informasi awal tersebut berupa “Getting Started” dari situs proyek.

Mudah Membangun Apps Gunakan Android Studio

Di ajang Google I/O, pertemuan para pengembang yang berlasung di San Francisco, 15-17 Mei 2013, tim dari Google memperkenalkan Android Studio, yaitu sebuah IDE (Integrated Development Environment) untuk membangun aplikasi Android. Android Studio berambisi meningkatkan lebih lanjut lingkungan pengembangan terpadu (IDE) Android yang ada, agar lebih baik dan lebih mudah digunakan, sekaligus menggantikan sistem berbasis Eclipse yang digunakan sekarang. Android Studio menjanjikan penampilan App-Layouts yang lebih baik dibandingkan Eclipse, disamping lebih mudah menghasilkan kode pemrograman yang diinginkan, terutama dengan mengintegrasikan beragam antarmuka baru untuk komponen Android.

android_studio_presentation_640

Dengan jumlah lebih dari 900 juta (Mei 2013) perangkat Android yang telah diaktifkan saat ini, platform Android yang ditenagai kernel Linux ini merupakan sistem operasi perangkat bergerak yang paling banyak digunakan dan merupakan pasar terluas yang sangat menarik bagi para pengembang aplikasi perangkat bergerak. Pada bulan yang sama satu tahun sebelumnya (2012) jumlah instalasi Android tercatat 400 juta unit.

android_studio_konsol_640

IDE yang anyar ini adalah berbasis sistem IntelliJ, namun ia juga tersedia dalam versi bebas tanpa biaya berupa Community Edition. Banyak detil saat ini yang belum dirinci, namun diharapkan dalam rangkaian Developer-Sessions di Google I/O akan terungkap lebih banyak.

Diantara banyak antar muka yang tersedia, adalah termasuk sebuah Location-API yang lebih baik, yang memungkinkan sebuah Apps tidak sekedar bekerja lebih cepat dan efisien untuk mengetahui posisi dimana Smartphone tersebut sedang berada, namun juga diperoleh informasi apakah perangkat Android tersebut sedang digendong oleh pemiliknya sambil berjalan kaki, naik sepeda atau naik mobil. Hal ini merupakan bagian dari fitur GeoFencing, yang secara virtual dapat memagari wilayah ruang gerak sebuah perangkat smartphone tersebut. Kecuali itu tersedia fitur agar pengguna nantinya bisa registrasi pada sebuah App menggunakan Google+, serupa dengan Facebook-Logins yang telah umum digunakan, dan dengan bantuan sebuah PC dapat memilih Single-Sign-On menggunakan Google+ yang sebagai App kemudian dapat dipasang di Smartphone. Fitur antar muka lainnya adalah Google Cloud Messaging yang menyulap sebuah smartphone Android menjadi semacam service provider untuk layanan Push Notifications.

Fitur Gamer juga mendapatkan dukungan melalui Google Play Games yang memberi kemudahan dalam menciptakan permainan Multiplayer, dengan fitur yang dapat menyelaraskan (sync) status permainan dengan perangkat lainnya secara daring (online).

Developer Console seperti sebuah dash board juga membantu pengembang dalam banyak hal, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas Apps yang dikembangkannya. Google juga menampilkan saran-saran untuk mengoptimalkan Apps, termasuk menyediakan sebuah App Translation Service, yaitu sebuah pasar dimana pengembang dapat mencari dan menawarkan jasa penterjemahan ke berbagai bahasa.

Google Analytics juga tersedia untuk Apps yang nantinya mendata bagaimana para pengguna memanfaatkan Apps tersebut, seperti juga statistik tentang dari saluran mana dan berapa jumlahnya instalasi yang telah dilakukan pengguna. Demikan juga Revenue Graphs akan merinci lebih detil lagi mengenai data penghasilan pengembang, dibandingkan dengan yang telah tersedia sekarang.

Awalnya Android Dirancang Untuk Kamera Digital

andy_rubin_android_640Pencipta dan pendiri sistem operasi Android Andy Rubin menyingkapkan bahwa Android awalnya bukan diciptakan untuk Smartphone melainkan untuk kamera digital. Strategi pengembangan kemudian berubah setelah melihat pasar Smartphone lebih menjanjikan.

Andy Rubin mengungkapkan hal tersebut di ajang konferensi “New Economic Summit 2013″ pada tanggal 16 April 2013 yang diliput ITmedia. Dari pemberitaan tersebut, Andy Rubin sebagai penemu Android dan memimpin divisi yang sama di Google sampai Maret 2013, memaparkan hari-hari pada awalnya Android dikembangkan. Perusahan Android didirikan pada akhir 2003, dan belum sampai dua tahun kemudian telah diakuisisi oleh Google pada bulan Agustus 2005.

Sebelumnya pada bulan April 2004, dalam upaya mencari investor, Android sempat dipresentasikan sebagai sebuah sistem operasi untuk kamera digital. Karena volume penjualan kamera digital kemudian diproyeksikan lebih rendah daripada smartphone, perusahaan mengubah orientasinya. Lima bulan kemudian, Android telah disulap menjadi sebuah sistem operasi open source untuk perangkat mobile. Ketika Android diambil alih Google setahun kemudian, kamera digital sudah tidak lagi menjadi fokus pengembangannya.

Tujuan yang ingin dicapai Android pada saat itu terutama untuk menyediakan sistem operasi smartphone untuk produsen tanpa perlu membayar royalti atau bebas pungutan lisensi (pungli). Pada era yang sama tersedia Symbian dan Microsoft Windows Mobile sebagai platform smartphone utama, sementara Android hanya tercatat sebagai oposisi, dimana posisi seperti terjadi pada saat ini belum diantisipasi dan masih diimpikan perusahan.

Menurut Andy, pada tahun 2010 ditargetkan pangsa pasar sebesar 9 persen, namun pada kuartal keempat tahun 2010, tidak diduga pangsa pasar Android telah meningkat menjadi hampir 33 persen. Setelah mengalami penanjakan tajam, pangsa yang diraih Android hampir 70 persen pada kuartal keempat 2012.

kamera_galaxy_samsung_640Android yang dominan dikembangkan sebagai sebuah platform smartphone, saat ini membidik sukses yang sama untuk tablet. Walaupun Android kemudian tidak serius dirancang untuk kamera, namun salah satunya Samsung telah coba-coba meluncurkan Galaxy Kamera pada musim gugur 2012.

AOSI Selengarakan Training Membuat Aplikasi Android

AOSI Open KnowledgeMenyusul rangkaian ajang “AOSI Open Knowledge” pertama yang sukses menggelar training tentang Alfresco pada bulan Januari 2013 lalu, kini saatnya AOSI (Asosiasi Open Source Indonesia) menyelenggarakan Training kedua pada tanggal 27 Februari 2013, dengan topik Android menyediakan materi training pembuatan aplikasi Android, mulai dari pengenalan, pengembangan dan ditutup dengan pembuatan aplikasi mobile untuk dijalankan di platform Android.

Android adalah platform perangkat bergerak (mobile devices) yang saat ini paling populer di dunia. Merupakan sebuah kenyataan bahwa Android yang ditenagai kernel Linux ini, telah di jalankan di ratusan juta perangkat bergerak di lebih dari 190 negara di dunia dan terus tumbuh dengan pesatnya. Kebutuhan akan segala jenis aplikasi, games dan konten digital dengan platform Android setiap hari terus meningkat dan tidak akan ada habisnya.

Terutama bagi mereka yang memiliki berbagai idea yang khas dan ingin ditampilkan berupa sebuah aplikasi di ratusan juta pengguna platform Android, maka training ini akan menjadi sangat relevan.

Training yang dijadwalkan pada hari Rabu 27 Februari 2013, mulai pukul 08:00 sampai dengan 17:00 wib ini dibawakan oleh Bapak Sirojul Munir, S.Si, M.Kom dari PT Nurul Fikri Cipta Inovasi dan Penulis rubrik Android di Majalah InfoLINUX.

Pada babak pertama materi training diawali dengan “Pengenalan Android”, kemudian “Setup Instalasi Andorid SDK dan Emulator”, dan dilengkapi dengan pembahasan tentang “Android Activity & Layout”.

Pada babak kedua dibahas mengenai “View Data dengan ListView”, kemudian “Intent”, dan puncak dari traning ini adalah “Pembuatan Paket APK”, setelah peserta dianggap memahami konsep dasar dari masing-masing komponen yang dibutuhkan untuk membangun sebuah aplikasi mobile untuk dijalankan di Android.

Untuk meningkatkan faktor keberhasilan perseta dalam keterbatasan waktu training yang tersedia, maka diharapkan dari peserta atau lebih baik bila peserta telah memiliki sedikit pemahaman tentang algoritma pemrograman atau paling tidak pernah mencoba membuat aplikasi sederhana dengan bahasa pemrograman apapun.

Acara dan Tempat:

Judul Training:
Mobile Open Source Application Development – Android

Hari Rabu, tanggal 27 Februari 2013, Pukul 08:00 – 17:00 wib

Pembawa Materi:
Bapak Sirojul Munir, S.Si, M.Kom dari PT Nurul Fikri Cipta Inovasi dan Penulis Android di Majalah Info LINUX.

Lokasi Training :
Nurul Fikri Computer, Jalan Mampang Prapatan Raya No 17 A, Telp 021 7975235/7947115 Jakarta Selatan
koordinat google maps: -6.244305,106.825646

Mobile Open Source Application Development - Android
Mobile Open Source Application Development – Android

Rincian Kegiatan Training :
08:00 – 08:30  Pendaftaran
08:30 – 10:15  Pengenalan Android, Setup Instalasi Andorid SDK / Emulator
10:15 – 12:00  Android Activity & Layout
12:00 – 13:00  Ishoma
13:00 – 15:00  View Data dengan ListView, Intent
15:00 – 15:30  Coffe Break
15:30 – 16:50  Pembuatan Paket APK
16:50 – 17:00  Pengisian from feedback

Siapa yang perlu hadir :
1. Programmer aplikasi mobile
2. Mahasiswa atau umum yang akan membuat aplikasi android untuk bisnis, pendidikan, games atau edutainment, dll

Agar mendapatkan hasil yang maksimal sebaiknya peserta training memiliki pengetahuan sebagai berikut :
1. Mengerti dan memahami algoritma pemrograman.
2. Pernah membuat aplikasi sederhana dengan bahasa pemrograman apapun.

Biaya Training Rp. 500.000, khusus anggota AOSI diberikan diskon 30%
Pembayaran paling lambat 1 hari sebelum acara atau Pembayaran On The Spot
Pendaftaran di http://aosi.or.id/pendaftaran/