Firefox: Peramban Open-Source Satu Dekade

Planet Firefox

firefox-fx10jakarta_400Pada tanggal  9 November 2014 Mozilla Foundation mencatat sepuluh tahun sejak peramban jagat maya versi final pertama Firefox 1.0 diluncurkan. Disamping dirayakan (twitter #fx10) oleh berbagai kalangan, komunitas dan pengguna Firefox diseluruh dunia, pengembangnya memanfaatkan kesempatan sama untuk mempublikasikan sebuah peramban khusus yang dipersembahkan untuk para pengembang piranti lunak, sebuah browser yang juga ditenagai oleh mesin Gecko. Perayaan oleh komunitas Firefox di Jakarta (http://bit.ly/fx10jakarta) dijadwalkan pada tanggal 14-11-2014.

Baca lebih lanjut

Wireshark Pantau Jaringan Selama 15 Tahun

Wireshark Packet SnifferAplikasi yang pada awalnya dikembangkan Gerald Combs untuk Ethernet dan protokol TCP/IP diluncurkan untuk kali pertama pada tanggal 14 Juli 1998 dengan nama Ethereal. Pada tahun pertama proyek yang menganut kaidah Open Source ini telah mendukung banyak protokol seperti Token Ring, Novell IPX, DNS, IGMP, OSPF, RIP, DHCP, ISO/OSI, Banyan Vines, FDDI, AppleTalk, dan NetBIOS, ternyata mampu memicu gelombang kontribusi pembangunan dan popularitas yang bagi Combs sampai hari ini masih merupakan tanda tanya.

Pesatnya pertumbuhan menunjukkan adanya kebutuhan yang besar pada alat analisis jaringan yang tersedia bebas, di saat pasar alat sniffer yang pada saat itu masih didominasi oleh Network Generals yang mahal. Berkat integrasi yang berkesinambungan dari dekoder baru yang dilakukan secara gotong royong oleh ratusan pengembang dari segala sudut dunia, Ethereal telah mampu tumbuh dengan pesat, sekaligus menyapu produk-produk komersial yang ada di pasaran. Pada saat ini, proyek yang telah berubah nama menjadi Wireshark, dibangun dari dua juta baris kode pemrograman dan diunduh setengah juta kali per bulan.

Meningkatnya penggunaan jaringan area lokal nirkabel sejak tahun 2000 telah memicu permintaan untuk menganalisa protokol WLAN IEEE 802.11. Karena kebanyakan laptop pada saat itu tidak mampu digunakan untuk modus pemantauan dan hanya sebagian dari WLAN-Frames bisa diterima Ethereal, maka bersama-sama dengan pengembang WinPcap Loris Degioanni dari Cace Technologies, Combs kemudian mengembangkan adaptor AirPcap. Kerjasama inilah yang menjadi alasan bagi Cace Technologies untuk merekrut Combs dan memaksa perubahan nama menjadi Wireshark. Nama Ethereal tetap menjadi di hak milik perusahan tempat Combs bekerja sebelumnya.

Bersamaan dengan loncatan Combs ke perusahan baru, ternyata telah membuat produk Wireshark menjadi tambah populer. Combs naik daun dengan kredibilitas cukup tinggi. Hal itu dibuktikan ketika ia sekali lagi loncat dan bergabung dengan perusahan lain pada tahun 2010, segenap komunitas Wireshark mengiringinya dan bergabung mendukung Combs. Sejak saat itu kegiatan Wireshark di sponsori oleh Riverbed Technology.

Kisah sukses Wireshark masih terus berlanjut, seperti alat Open Source pada umumnya, ia akan selalu terbuka untuk pengembangan yang menyokong aplikasi baru. Peminat Wireshark di Indonesia pun relatif banyak, hal itu ditunjukkan dari statistik peserta workshop yang menawarkan materi pelatihan di ajang GCOS (2009) dan ICrOSS (2013).

wireshark workshop gcos-2009

Google Siapkan Backend Untuk Aplikasi Mobile di Awan

Banyak aplikasi mobile terbaik yang ditenagai oleh layanan dari cloud, seperti halnya disebutkan Pulse dan SongPop yang telah lama menikmati keuntungan berupa kenyamanan dan skalabilitas yang ditawarkan oleh platform awan dari Google. Sekarang Google menambahkannya dengan layanan “Mobile Backend Starter” dengan tujuan untuk lebih memudahkan lagi bila diperlukan memberdayakan layanan awan berupa “cloud services” dalam aplikasi yang akan dikembangkan.

Di ajang konferensi Googles I/O belum lama berselang, telah diungkapkan tentang rencana itu, dan kini direalisasikan berupa ketersediaan dari “Mobile Backend Starter” bebas digunakan untuk publik. Dibalik nama tersebut adalah sebuah Backend yang mendukung aplikasi mobile dan sebuah kerangka kerja atau framework untuk Android di sisi klien yang semuanya ditulis dalam bahasa Java.

google-mobile-backend-arch_640

Penawaran dari Google ini ditargetkan terutama untuk para pengembang yang tidak ingin banyak membuang waktunya untuk menulis sendiri kode pemrograman untuk fitur Backend. Backend Starter terdiri dari sebuah Server, dimana tersimpan Data dengan “App Engine”-nya, termasuk sebuah pustaka dan contoh penggunaanya di Android. Andaikan masih perlu adanya penyesuaian, maka kode sumbernya bisa digali di lumbung pemrogram GitHub.

Kecuali itu, juga dimungkinkan untuk mengintegrasikan fitur “Google Cloud Messaging” dan sebuah mekanisme otentifikasi dari Googles, yang tak hentinya jalan di server berikut pembaruan (update) yang secara otomatis diteruskan ke klien.

Manager Produk Brad Abrams memaparkan dalam blognya, bahwa Mobile Backend Starter disediakan agar produk dapat dibuat mudah hanya dengan klik saja, namun ia tetap menyarankan agar pengguna memeriksa penjelasan tersedia, tentang cara menyiapkan dan menyesuaikannya, paling tidak saat awal penggunaannya. Silakan menyimak informasi awal tersebut berupa “Getting Started” dari situs proyek.

Stallman Tolak DRM Susupi Standar HTML

Richard M Stallman
Richard M Stallman

Pendiri dan Presiden dari Free Software Foundation (FSF): Richard M Stallman sarankan kosorsium W3C yang sedang menyusun stadarisasi untuk Web, agar tidak mengimplementasikan DRM dalam standar HTML.

Sejak lama FSF telah berkampanye menentang Digital Rights Management (DRM), yang menurut FSF lebih pantas disebut sebagai sebuah Digital Restrictions Management, lantaran DRM pada prakteknya cenderung membatasi hak pengguna, atau paling tidak mempersulit pengguna  dalam menggunakan produk DRM yang dibeli pengguna dari ketersediaan akan fitur yang seutuhnya.

Yang menjadi perhatian Stallman akhir-akhir ini, adalah upaya-upaya pada kosorsium W3C (World Wide Web Consortium), yang ingin menyusupkan DRM menjadi bagian dari standar internasional untuk HTML. Seperti ditulis Stallman dalam blog-nya, disinyalir sejumlah perusahan seperti Netflix, Microsoft, Google dan BBC dituding berada dibalik upaya tersebut.

Sejatinya W3C tidak dapat melarang DRM untuk digunakan, misalnya menggunakan dan melalui plugins tidak bebas seperti Flash atau kode JavaScript proprietari, seperti yang telah terjadi pada saat ini, namun Stallman dan jutaan aktivis kebebasan lainnya, pada prinsipnya menolak apabila DRM diresmikan menjadi bagian dari sebuah standar internasional.

hollyweb_300

Menyisipkan DRM sebagai bagian dari sebuah standarisasi (W3C), menurut Stallman tidak akan membuat pengguna menjadi lebih berdaulat, namun sebaliknya akan mendorong penerapan pembatasan menjadi lebih nyaman. Banyak penyedia Web tanpa disadari berpotensi akan ikut mengebiri hak pengguna dengan menerapkan Digital Restrictions Management (DRM). Sementara itu, terhadap fitur DRM yang diterapkan di sebuah sistem operasi, pengguna dapat mengambil alih kemerdekaannya dengan beralih ke sistem operasi bebas seperti Linux.

Keberpihakan Free Software Foundation (FSF) terhadap Software berkepemilikan (proprietary) rupanya tidak dapat digoyahkan. Stallman masih tidak percaya bahwa kubu software proprietari dalam hal ini akan adil. Ia menyarankan agar W3C tidak menggubris perusahan yang mempromosikan DRM. Dalam tulisannya, Stallman merinci argumentasi pihak pengusul DRM dan menjelaskan risiko yang menjadi ancaman terhadap kemerdekaan pengguna. Karena itu, Stallman mengajak semua untuk bergabung dengan puluhan ribu pengguna dalam aksi petisi “Stop DRM in HTML5“.

Ruby 2.0: Sahabat Baik Pemrogram Selama 20 Tahun

Bahasa pemrograman skrip Ruby versi 2.0 dirilis pengembangnya tepat pada hari ulang tahun ke dua puluh proyek ini. Rilis akbar Ruby 2.0 yang mengemas banyak perbaikan, peningkatan dan penambahan fitur, memang pantas untuk dirayakan pada ulang tahun keberadaannya yang telah mencapai genap dua dasawarsa. Tanggal kelahiran bahasa skript Ruby ini ditandai dengan hari Check-in pertama dari penemunya Yukihiro “Matz” Matsumoto pada tanggal 24 Februari 1993.
ruby_20tahun_sahabat_pemrogram_640
Ruby dibesarkan sebagai sebuah ceruk atau “niche” menyendiri sebagai bahasa khusus dalam waktu yang cukup panjang. Setelah hampir sepuluh tahun berlalu, setelah Ruby ditampung di kerangka kerja Rails, kemudian bahasa pemrograman skript Ruby mulai dekenal masyarakat secara luas sebagai “Ruby on Rails” dan menjadi sahabat baik para pemrogram aplikasi web. Ruby bersama kerangka kerja Rails naik daun, tidak terlepas dari booming yang terjadi di sektor pengembangan web dan internet sepuluh tahun terakhir.

Versi Ruby 2.0.0 merupakan rilis stabil pertama generasi atau cabang pengembangan 2.0 ini yang membawa sejumlah fitur baru, disamping perbaikan-perbaikan yang mengantisipasi kebutuhan pengembang web yang kian hari kian menanjak akan bahasa Ruby.

Highlights dari rilis Ruby 2.0.0:

  • Keyword arguments  telah ditambahkan, memberikan fleksibilitas untuk desain API;
  • Versi ini menyertakan penyempurnaan, yang menambahkan konsep baru pada modularitas Ruby;
  • Beberapa aplikasi populer seperti Rails dan tDiary dilaporkan dapat bekerja pada versi rilis kandidat dari 2.0.0;
  • rdocs dalam jumlah besar telah ditambahkan untuk modul dan metode;
  • Dukungan DTrace telah ditambahkan memungkinkan untuk melakukan run-time diagnosis dalam sistem produksi;
  • Telah ditambahkan TracePoint, yang merupakan peningkatan dari pelacakan API;
  • Telah ditambahkan UTF-8 encoding standar.

Daftar perbaikan lebih rinci untuk rilis 2.0.0 ini, dapat dibaca di situs pengembang proyek Ruby.