Google Siapkan Backend Untuk Aplikasi Mobile di Awan

Banyak aplikasi mobile terbaik yang ditenagai oleh layanan dari cloud, seperti halnya disebutkan Pulse dan SongPop yang telah lama menikmati keuntungan berupa kenyamanan dan skalabilitas yang ditawarkan oleh platform awan dari Google. Sekarang Google menambahkannya dengan layanan “Mobile Backend Starter” dengan tujuan untuk lebih memudahkan lagi bila diperlukan memberdayakan layanan awan berupa “cloud services” dalam aplikasi yang akan dikembangkan.

Di ajang konferensi Googles I/O belum lama berselang, telah diungkapkan tentang rencana itu, dan kini direalisasikan berupa ketersediaan dari “Mobile Backend Starter” bebas digunakan untuk publik. Dibalik nama tersebut adalah sebuah Backend yang mendukung aplikasi mobile dan sebuah kerangka kerja atau framework untuk Android di sisi klien yang semuanya ditulis dalam bahasa Java.

google-mobile-backend-arch_640

Penawaran dari Google ini ditargetkan terutama untuk para pengembang yang tidak ingin banyak membuang waktunya untuk menulis sendiri kode pemrograman untuk fitur Backend. Backend Starter terdiri dari sebuah Server, dimana tersimpan Data dengan “App Engine”-nya, termasuk sebuah pustaka dan contoh penggunaanya di Android. Andaikan masih perlu adanya penyesuaian, maka kode sumbernya bisa digali di lumbung pemrogram GitHub.

Kecuali itu, juga dimungkinkan untuk mengintegrasikan fitur “Google Cloud Messaging” dan sebuah mekanisme otentifikasi dari Googles, yang tak hentinya jalan di server berikut pembaruan (update) yang secara otomatis diteruskan ke klien.

Manager Produk Brad Abrams memaparkan dalam blognya, bahwa Mobile Backend Starter disediakan agar produk dapat dibuat mudah hanya dengan klik saja, namun ia tetap menyarankan agar pengguna memeriksa penjelasan tersedia, tentang cara menyiapkan dan menyesuaikannya, paling tidak saat awal penggunaannya. Silakan menyimak informasi awal tersebut berupa “Getting Started” dari situs proyek.

IBM Tawarkan OpenStack Untuk Solusi di Awan

IBM menyingkapkan pengalihan semua layanan di awan (Cloud Services) ke platform sumber terbuka OpenStack. Pada tahap pertama IBM akan menawarkan OpenStack bersama software IBM SmartCloud Orchestrator untuk menyediakan solusi awan pribadi (Private Clouds).

ibm_smartcloud_640
Dalam sebuah ajang untuk memperkenalkan produk-produk IBM, Robert LeBlanc, wakil presiden dari IBM menekankan bahwa menggunakan OpenStack, IBM sekarang di lingkungan Awan kembali mengenengahkan sumber terbuka (Open Source) dan standar terbuka (Open Standard), meneruskan sukses sebelumnya di sektor Web dan sistem operasi Linux.

OpenStack adalah sebuah platform awan yang terdiri dari software-software bebas dan open source untuk menyediakan basis menjalankan awan IaaS (Infrastructure as a Service), baik pribadi maupun publik yang dapat digunakan untuk keperluan seperti apa yang ditawarkan oleh Amazon Web Services, yaitu berupa sumber daya untuk komputasi dan penyimpanan data dalam bentuk mesin virtual.

Pegembangan platform awan ini dikelola oleh OpenStack Foundation yang beranggotakan perusahan-perusahan TI terkemuka seperti AMD, AT&T, Canonical, Cisco, Dell, HP, Intel, Red Hat, Suse, Deutsche Telekom, VMware, dan tentunya juga termasuk IBM (sejak sekitar satu tahun). Versi terakhir OpenStack – v.2012.2 “Folsom” dirilis bulan September tahun 2012 baru lalu.

openstack_folsom_640

OSS Enkripsi Data Perusahan Di Awan

Sebuah konsorsium yang terdiri dari perusahan-perusahan AX Business Solution AG, NightLabs Consulting GmbH dan Pusat Riset Informatika Karlsruhe [Forschungszentrum Informatik Karlsruhe (FZI)] bergabung dalam sebuah proyek Cumulus4j. Proyek ini ingin menunjukkan bagaimana mengamankan data perusahan di Internet dan sedang mengembangkan software yang memungkinkan perusahan untuk menempatkan data perusahan yang peka dengan relatif aman di infrastruktur awan.

Untuk itu Cumulus4j meng-enkripsi data perusahan yang kemudian dibagi menjadi banyak bagian untuk masing-masing disimpan di tempat yang berbeda di infrastruktur awan. Cara demikian tidak hanya akan menyulitkan hacker dari luar, bahkan sysadmin penyedia layanan awan-pun dengan otoritasnya tidak bisa memanfaatkan potongan-potongan data yang tersimpan secara acak. Sebaliknya, hanya pemilik data yang memiliki otoritas diberikan hak kendali dan kunci terhadap data yang dititipkannya di perusahan penyedia layanan awan

Cumulus4j yang ditulis dalam bahasa Java, saat ini tersedia sebagai Plug-in untuk DataNucleus, yaitu sebuah platform Open Source untuk pengelolaan data yang sebelumnya telah dikenal sebagai Java Persistent Objects (JPOX). Penyedia layanan awan dapat mengintegrasikannya di software Cloud mereka via Java Data Objects (JDO) atau melalui Java Persistence API (JPA).

Jadi, antara program aplikasi dan sistem penyimpanan data disisipkan lapisan yang memroses enkripsi dan dekripsi. Sebelum data disimpan di basis data, secara otomatis Cumulus4j akan melakukan enkripsi kemudian mendistribusikannya. Sebaliknya program ini akan men-dekripsi data “on the fly” bilamana aplikasi membutuhkannya. Pengembangnya mengklaim bahwa Cumulus4j dapat bekerjasama dengan banyak jenis basis data seperti MySQL, Googles BigTable, Hadoop HBase dan MongoDB.

Proyek sumber terbuka yang disponsori oleh pemerintah Jerman (Kementrian Pendidikan dan Riset BMBF) ini, menjanjikan ketersedian Cumulus4j pada bulan Januari 2012 sebagai sebuah software bebas dengan lisensi AGPL.

.

Oracle Rilis VirtualBox 4.1

Oracle telah merilis software virtualisasi VirtualBox 4.1 yang mengandung banyak peningkatan seperti cloning atau menggandakan mesin virtual disamping sejumlah fitur baru eksperimental.

Seperti tertera di catatan Changelog, tersedia fitur-fitur GUI yang memudahkan penggandaan mesin virtual, sebuah Wizard untuk membuat dan menyalin drive virtual dan juga sebuah driver grafis untuk mesin tamu Windows (taraf eksperimental), dukungan untuk efek Aero dari Windows 7 dan dukungan lebih luas terhadap Direct3D. Juga masih dalam taraf eksperimental adalah mekanisme baru untuk memungkinkan “Hot Plugging” pada harddisk SATA yang dapat diakses via command line VirtualBox (VBoxManage).

VirtualBox adalah mesin virtual untuk Desktop maupun Server yang dapat menyediakan PC virtual, baik 32-bit atau 64-bit. Untuk sistem host 64-bit dari mesin virtual VirtualBox 4.1 telah mampu memanfaatkan RAM sampai dengan 1 TByte. Di sistem host untuk Linux telah diimplementasikan fitur PCI-Passthrough yang saat ini masih dalam status ujicoba.

Virtualbox 4.1 telah menyediakan paket binari untuk dipasang di sejumlah aneka distribusi Linux popular, disamping untuk sistem operasi lainnya seperti Mac OS X, Solaris, MS Windows. Demikian juga telah disiapkan kode sumbernya berikut sebuah SDK (Software Development Kit) dan dokumentasi yang diperlukan.

Tentang VirtualBox:
Mulanya VirtualBox merupakan paket software x86 untuk virtualisasi 
sistem operasi yang dikembangkan oleh sebuah perusahan Jerman innotek. 
Setelah diakuisisi Sun Microsystems, VirtualBox kemudian menjadi 
bagian dari Sun xVM virtualization platform.

VirtualBox dapat di instalasi di sistem operasi eksisting sebagai 
host (tuan rumah) untuk banyak sistem operasi virtual sebagai sistem
tamu yang ditambahkan, termasuk aplikasi-aplikasi terkait.

Sebagai sistem tuan rumah (host OS) VirtualBox telah mendukung banyak
jenis sistem operasi termasuk: Linux, Mac OS X, OS/2 Warp, Windows XP, 
Vista, Windows 7 dan Solaris. Sementara sebagai sistem operasi tamu 
juga mendukung sistem-sistem operasi DragonFlyBSD, FreeBSD, Linux,
OpenBSD, OS/2 Warp, Windows dan Solaris.

Sejak Sun diakuisisi Oracle Corporation di bulan Januari 2010, 
produk software ini diganti namanya menjadi Oracle VM VirtualBox.

Mulai Virtualbox versi 4 yang dirilis di bulan Desember 2010, porsi
utama "core package" dari VirtualBox yang berfitur penuh ini tetap 
berlisensi bebas dibawah naungan GNU General Public License version 2
(GPLv2). Beberapa fitur tidak termasuk merupakan komponen proprietari, 
dirilis sebagai "proprietary Personal Use and Evaluation License 
(PUEL)," yang memperbolehkan pemanfaatan tanpa biaya khusus untuk 
keperluan pribadi, edukasi dan evaluasi.

OpenStack Terbitkan Cactus

OpenStack menyingkap kemajuan pengembangan komputasi awan dan mengumumkan kehadiran generasi berikutnya ‘Cactus’ memperbaharui serangkaian software sistem karya OpenStack yang terdiri dari proyek-proyek “OpenStack Compute”, “OpenStack Image Registry and Delivery” dan “OpenStack Object Storage”. OpenStack adalah proyek open source yang digarap secara gotong royong melibatkan sejumlah anggota organisasi dan perusahan seperti Rackspace, NASA, Dell, Citrix, Cisco dan Canonical.

Rilis Cactus memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dari ‘Compute’ yang bertugas mengelola dan men-setting server virtual, ‘Image Registry and Delivery’ yang mengurus ketersediaan Server Images dan ‘Object Storage’ yang menyediakan basis solusi penyimpanan di awan dan mengatur soal redundansi dan skalabilitas.

Untuk OpenStack Compute, Codename Nova, telah ditambahkan dua teknologi virtualisasi dan kini diklaim bisa menghendel LXC-Containern dan VMWare/vSphere ESX/ESXi 4.1. Sebelumnya sistem ini telah mendukung Microsoft Hyper-V, KVM, QEMU, UML, Xen dan Citrix XenServer. Mesin virual (VM) berbasis KVM kini bisa dipindahkan dari satu komputer Host ke Host yang lainnya tanpa perlu mematikan mesin. Cactus disediakan sudah berikut OpenStack Compute API 1.0 yang memungkinkan fitur multiple Accounts. Versi API 1.1 yang juga tersedia dan masih dalam status ujicoba, mendukung standarisasi mekanisme pemekaran (standardized extension mechanism) yang diharapkan memberi dampak positif terutama bagi para pengembang.

Komponen software OpenStack Image Registry and Delivery, Codename Ā»GlanceĀ«, yang ditangani menggunakan perkakas command line, bisa menggunakan API untuk mengakses langsung layanan-layanan yang ditawarkan Glance. Diantara banyak pembaruan lainnya adalah juga perbaikan pada sistem autentifikasi yang membantu meringankan para Service Provider untuk menyediakan sistem tagihan (billing).

Kecuali perbaikan pada software-software yang diasuhnya, OpenStack juga membenahi struktur tim pengembangnya dan telah memilih pimpinan untuk masing-masing proyek OpenStack-Projekte Nova, Glance dan Swift. Bagi yang berminat mengadopsi sistem Open Source yang mengadopsi lisensi Apache-Lizenz 2.0 ini, dipersilakan mengunduhnya langsung dari situs proyek.

Nginx 1.0.0: Server-Web Gerak Cepat dan Hemat Sumberdaya

Nginx, diucapkan seperti “Engine X”, adalah server untuk HTTP dan Reverse-Proxy, seperti juga digunakan sebagai server Mail-Proxy yang jumlah penggemarnya terutama di Rusia, sejak beberapa tahun terakhir menanjak. Dari negara yang sama juga berasal perancang Nginx, Igor Sysoev yang telah memulai pengembangannya sejak tahun 2002. Rilis pertama Nginx 0.1.0 tersedia pada tanggal 4 Oktober 2004 dan pada tanggal 12 April 2011 baru lalu diluncurkan versi final pertama Nginx 1.0.0.

Berdasarkan pantauan aktifitas di Internet yang dilakukan oleh Netcraft, tercatat di bulan Maret 2011 sekitar 23,4 juta situs yang dijalankan menggunakan Nginx. Dengan demikian software Open-Source ini mengantongi pangsa pasar sekitar 7,5 persen dan menempatkan Nginx sebagai nomor tiga setelah Apache (61,13 %) dan Microsoft IIS (18,83 %). Diantara situs kelas kakap yang ditenagai Nginx adalah WordPress.com, Github dan Sourceforge.

Nginx diakui bekerja cepat, stabil dan efisien menggunakan sumberdaya dan dirancang untuk menangani banyak koneksi bersamaan. Berbeda dengan server tradisional, Nginx tidak bergantung pada ‘threads’ untuk menangani permintaan. Untuk itu Nginx menggunakan arsitektur yang digerakkan berdasarkan event yang diklaim lebih skalabel. Arsitektur ini ternyata pada saat dibebani hanya memerlukan sedikit memori dan menurut pengembangnya dalam jumlah yang bisa diprediksi. Misalnya untuk mempertahankan 10.000 koneksi HTTP inaktif menggunakan Keep-Alive diperlukan memori hanya 2,5 MByte.

Nginx mendukung fungsi-fungsi dasar, namun juga Load-Balancing untuk meningkatkan kehandalannya. FastCGI misalnya menggunakan bahasa skript dinamis seperti PHP dapat digabungkan dan fungsi lain untuk Nginx dapat ditambahkan dalam bentuk modul. Sebagai contoh telah tersedia modul Filter untuk Gzip, Byte Ranges, Chunked Responses, XSLT, SSI dan lainnya. Nginx juga disebutkan mendukung fitur SSL und TLS. Lebih rinci dibahas di situs wikinya Nginx.

Fitur-fitur lain dari Nginx antara lain adalah dukungan untuk server virtual berbasis nama dan alamat IP, Keep-Alive, Pipelined-Connections, limitasi untuk Bandwidth dan FLV-Streaming. Semua konfigurasi dapat dilakukan sambil jalan tanpa perlu menghentikan mesin Nginx. Nginx yang lintas platform, tersedia untuk dijalankan di sistem operasi FreeBSD, Linux, Solaris, Mac OS X dan Windows XP / Server 2003. Nginx merupakan sebuah proyek open source yang mengadopsi lisensi BSD.

Red Hat Forum 2011 Digelar Di Jakarta

Red Hat menggelar acara seminar di Jakarta ditargetkan untuk para CIO dan manager TI pengguna korporat. Red Hat Forum 2011 yang dijadwalkan tanggal 6 April membahas tentang komputasi awan (cloud computing), virtualisasi, platforms, middleware, dan tren TI masa mendatang.

Di ajang acara tersebut Red Hat ingin menyampaikan perspektif dari dunia nyata, rahasia mengapa Red Hat Enterprise Linux adalah terkemuka dalam hal menyediakan performa, keamanan, skalabilitas dan kehandalan infrastruktur di seluruh lingkungan TI.

Presentasi diawali dengan pengenalan sistem operasi Linux skala perusahan Red Hat Enterprise Linux (RHEL) versi 6, dan menberi pencerahan mengenai produk secara umum berikut fitur-fitur baru dan kemampuan yang dimilikinya, disamping pemaparan tentang packaging.

Sebagai basis teknologi untuk komputasi awan, pembahasan dilanjutkan ke masalah virtualisasi yang sekaligus merupakan teknologi penting untuk memberikan dampak efisiensi yang berarti di pusat-pusat data moderen. Virtualisasi membantu perusahan meningkatkan kapabilitas disamping penghematan biaya, baik disisi investasi maupun operasional. Forum ini akan membuka diskusi yang membantu peserta dalam upaya membangun arsitektur virtualisasi menggunakan “Red Hat Enterprise Virtualization“, dan dilengkapi dengan pengetahuan membangun dasar untuk sebuah “cloud“, baik internal maupun eksternal menggunakan teknologi dari Red Hat.

Kecuali itu, solusi Platform as a Service (PaaS) merupakan salah satu bahasan utama dalam Forum kali ini. PaaS menyediakan kemampuan untuk mengembangkan aplikasi yang bisa diintegrasikan dengan mulus di lingkungan heterogen yang ada, untuk kemudian diterapkan di infrastruktur awan. Pemaparan difokuskan agar peserta bisa mendapatkan keuntungan dalam kecepatan “time to market“, peningkatan fleksibilitas dan penghematan biaya. Sesi ini juga membahas kebutuhan terpenting untuk sebuah Platform as a Service, dan mendiskusikan bagaimana pengguna dapat memanfaatkan JBoss Enterprise Middleware dari Red Hat secara efektif untuk membangun, mengakomodasikan, mengintegrasikan dan mengelola aplikasi-aplikasi, baik di awan-awan (clouds) pribadi maupun publik.

Keterangan lebih rinci dapat disimak disini, dan para manager TI yang berminat menghadiri Red Hat Forum 2011 tersebut, dipersilakan melakukan registrasi di situs yang sama. Acara yang berlangsung pada tangal 6 April 2011 (9:30-14:30) tersebut digelar di Ballroom A, Level 1, Intercontinental Hotel di Jakarta (Midplaza), Jl. Jend. Sudirman Kav. 10-11, Jakarta, 10220.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 179 pengikut lainnya.