Dua Puluh Tahun PDF

PDF_640Sejak awal komputer masuk ke lingkungan perkantoran, banyak kalangan berharap terciptanya kantor-kantor yang bebas dari timbunan kertas. Jumlah jenis format untuk dokumen elektronik yang tidak sedikit, merupakan salah satu hambatan utama dalam proses bertukar informasi. Kecuali itu ragam dari software pengolah kata yang tidak kompatibel satu dengan lainnya, juga tidak sedikit, sehingga berkas mudah kadaluarsa dan tidak dapat atau sulit dibaca seiring dengan peningkatan fitur dan kepentingan komersil pembuat software.

Kendala seperti itulah yang mulanya melandasi lahirnya ide-ide yang mendambakan adanya standarisasi pada format dokumen terbuka dan format dokumen portabel. Salah satu ide direalisasikan oleh perusahan software Adobe dengan menciptakan format dokumen yang disebut “Portable Document Format” atau PDF. PDF saat ini telah popular dan menjadi salah satu format utama dalam pertukaran berkas di lingkungan perkantoran maupun pribadi.

Hari ini, dua puluh tahun yang lalu pada tanggal 15 Juni 1993 perusahan Adobe untuk kali pertama merilis versi 1.0 untuk program Adobe Acrobat, yaitu software pengelola dan pembaca berkas “Portable Document Format”. Walaupun impian terciptanya dunia perkantoran yang seratus persen bebas dari kertas masih belum terjadi pada saat ini, namun keberadaan format PDF yang kemudian banyak digunakan untuk pertukaran dokumen, telah membantu dalam pemangkasan penggunaan kertas.

Pendiri perusahan Adobe, John Warnock mengawali proyek PDF pada tahun 1990 dengan tujuan agar tersedia bahasa yang universal dan disepakati untuk digunakan dalam pertukaran dokumen, dimana penerima dapat melihat dokumen persis seperti tampilan yang dibuat dan dilihat oleh pengirimnya, yaitu dengan fon tulisan dan gambar yang sama, lintas platform dan bebas dari ketergantungan pada sistem operasi komputer tertentu.

Ketika Software Acrobat 1.0 diluncurkan, ternyata program PDF ini tidak mendapat sambutan meriah dari dunia perkantoran. Paket program yang diluncurkan tersebut menyertakan perkakas untuk membuat dokumen PDF, komponen “Reader” untuk membaca dokumen PDF yang dihasilkan, dan komponen “Distiller” untuk mengkonversi berkas standar Postscript, yang jaman itu banyak digunakan di lingkungan industri percetakan, ke PDF.

Proses menuju kemenangan PDF baru terjadi mulai tahun 1994, ketika Adobe memutuskan untuk membebaskan komponen Reader untuk digunakan publik secara cuma-cuma. Dengan demikian tersedia kemungkinan bagi ratusan jutaan komputer dan perangkat mobile yang ada untuk memanfaatkan format PDF dalam penyebarluasan dan pertukaran dokumen. Sejak tahun 1995, Reader juga tersedia sebagai sebuah ekstensi untuk browser Web, sehingga penggunaan dokumen PDF di lahan Internet tumbuh dan meningkat.

Pada tahun 2008, format PDF mendapatkan standar ISO dan PDF tidak lagi merupakan bagian dari perusahaan Adobe secara ekslusif, melainkan termasuk sebagai salah satu lebih dari 500 perusahaan yang beragam yang terlibat dalam pembuatan dan peningkatan standar PDF. Selain Adobe kini banyak perusahaan yang menawarkan perangkat lunak komputer dan aplikasi smartphone yang mampu menghasilkan dokumen PDF, mengedit dan menampilkannya.

Mendukung aplikasi tertentu, juga tersedia varian untuk PDF, seperti PDF/E yang mengintegrasikan model 3D interaktif atau PDF/A untuk pengarsipan jangka panjang.

Di sektor pemerintah Indonesia, yang pada saat ini penggunaan TIK untuk pelayanan publik mengalami pertumbuhan yang tinggi, disinyalir memroses dengan format dokumen yang berbeda-beda, sehingga dianggap telah mengganggu ketersediaan (availability) dan keutuhan (integrity) dalam pertukaran dokumen perkantoran baik internal pemerintah maupun kepada masyarakat.

Atas pertimbangan hal-hal tersebut, diterbitkan Permen Kominfo No. 7 Tahun 2013 disusun serta dilengkapi dengan pedomannya. Dalam peratuaran menteri (permen) tersebut menyebutkan bahwa format data yang dihasilkan oleh penyelenggara sistem elektronik untuk pelayanan publik, diwajibkan untuk menggunakan Open Document Format (ODF) dan Portable Document Format (PDF), agar interoperabilitas dokumen perkantoran baik antar Penyelenggara Sistem Elektronik untuk Pelayanan Publik, maupun dengan masyarakat sebagai pengguna layanan, menjadi terjamin.

Google Siapkan Backend Untuk Aplikasi Mobile di Awan

Banyak aplikasi mobile terbaik yang ditenagai oleh layanan dari cloud, seperti halnya disebutkan Pulse dan SongPop yang telah lama menikmati keuntungan berupa kenyamanan dan skalabilitas yang ditawarkan oleh platform awan dari Google. Sekarang Google menambahkannya dengan layanan “Mobile Backend Starter” dengan tujuan untuk lebih memudahkan lagi bila diperlukan memberdayakan layanan awan berupa “cloud services” dalam aplikasi yang akan dikembangkan.

Di ajang konferensi Googles I/O belum lama berselang, telah diungkapkan tentang rencana itu, dan kini direalisasikan berupa ketersediaan dari “Mobile Backend Starter” bebas digunakan untuk publik. Dibalik nama tersebut adalah sebuah Backend yang mendukung aplikasi mobile dan sebuah kerangka kerja atau framework untuk Android di sisi klien yang semuanya ditulis dalam bahasa Java.

google-mobile-backend-arch_640

Penawaran dari Google ini ditargetkan terutama untuk para pengembang yang tidak ingin banyak membuang waktunya untuk menulis sendiri kode pemrograman untuk fitur Backend. Backend Starter terdiri dari sebuah Server, dimana tersimpan Data dengan “App Engine”-nya, termasuk sebuah pustaka dan contoh penggunaanya di Android. Andaikan masih perlu adanya penyesuaian, maka kode sumbernya bisa digali di lumbung pemrogram GitHub.

Kecuali itu, juga dimungkinkan untuk mengintegrasikan fitur “Google Cloud Messaging” dan sebuah mekanisme otentifikasi dari Googles, yang tak hentinya jalan di server berikut pembaruan (update) yang secara otomatis diteruskan ke klien.

Manager Produk Brad Abrams memaparkan dalam blognya, bahwa Mobile Backend Starter disediakan agar produk dapat dibuat mudah hanya dengan klik saja, namun ia tetap menyarankan agar pengguna memeriksa penjelasan tersedia, tentang cara menyiapkan dan menyesuaikannya, paling tidak saat awal penggunaannya. Silakan menyimak informasi awal tersebut berupa “Getting Started” dari situs proyek.

Open Source Hardware Percepat Pengembangan Produk

“Open Source” sampai sekarang paling sering dikaitkan dengan software untuk sebuah komputer. Pemahaman tentang Open Source tidak sekedar membuka kode sumber, melainkan telah menjadi simbol sebuah budaya berbagi ide, ilmu pengetahuan, dan pengalaman antar pengembang. Keberhasilan dari budaya tersebut telah dibuktikan misalnya di bidang komputasi, dengan keunggulan adopsi sistem operasi, mulai dari skala “Raspberry Pi”, sektor perangkat Mobile, sampai dengan Super Computer, disamping secara de-facto telah menjadi basis untuk Cloud, BigData, dan infrastruktur Internet.

Sementara pendekatan Open Source mendukung transparansi pada OpenCity, OpenGoverment dan beragam wacana yang bernuansa Open Source lainnya yang masih terus bergulir di lingkungan institusi yang bertanggung jawab terhadap publik, Open Source Hardware (OSHW) diprediksikan dalam waktu dekat akan mengubah tata cara dalam pengembangan produk fisik secara signifikan, disamping akan membantu akselerasi yang diiringi dengan re-engineer dalam proses manufacturing.

Proses tersebut ditandai dengan kehadiran printer 3D dengan harga yang kini mulai terjangkau untuk kebutuhan pribadi. Ditambahkan dengan kebebasan dalam pemanfaatan desain hardware dan software sebagai anugerah gerakan Open Source, sebuah perusahan seperti Circuitpot misalnya, memiliki keuntungan yang unik. Perusahan kecil di China tersebut menggabungkan pengetahuan yang tersedia dari gerakan open source dengan proses manufaktur yang murah di China, sambil mendorong inovasi dengan mengeksplorasi cara baru dalam desain dan pengembangan produk. Dengan prasarana yang terjangkau, hal yang serupa tidak sulit ditiru untuk dilakukan dimana saja di negara lain.

Situs bisnis Cina: Caixin Online menampilkan sebuah video tentang Gerakan Hardware Sumber Terbuka di Cina, yang mengisyaratkan sebuah perubahan pada industri manufaktur.

oshw_circuitpot_640

Filosofi berbagi kekayaan intelektual yang saling menguntungkan di dunia Open Source, memungkinkan siapa saja melakukan peningkatan dan perbaikan terhadap sebuah ide kemudian mengembalikan perbaikannya ke publik di seantero jagat. Dengan demikian produk berbasis Open Source lebih dapat diandalkan dibandingkan desain eksklusif, karena pengulas yang memantau kwalitas jumlahnya ratusan, atau bahkan ribuan. Sampai saat ini, open source sebagian besar diterapkan terbatas pada dunia perangkat lunak, namun mulai sekarang telah ditularkan lebih luas ke kalangan manufaktur.

Ragam dampak atas kehadiran Printer 3D di rumah:

3d_printer_640

Sebuah Printer 3D

Setiap kehadiran sebuah teknologi baru dengan harga yang terjangkau dan cepat tersebar di lingkungan pribadi secara luas, tidak selalu hanya membawa dampak positif saja. Seperti pisau bermata dua, sebagai contoh adalah tersebarnya printer mencetak berwarna dengan kemampuan kwalitas baik yang kini telah menjadi bagian dari asesoris standar komputer pribadi di rumah, maka sulit dihindarkan adanya peluang bila printer tersebut di(salah)gunakan untuk pemalsuan mata uang. Printer yang sama juga telah melumpuhkan industri pencetakan foto berwarna yang sebelumnya tidak dapat dilakukan sendiri oleh konsumen dirumahnya.

Printer 3D pada saat ini banyak digunakan, misalnya oleh para medeler yang mengoprek sistem robot, untuk membuat prototype dengan berbagi ide atau disain yang dikirimkan berupa file melalui internet. Disamping digunakan untuk berbagi Open Source Hardware (OSHW), dampak positif sebuah printer 3D dimasa mendatang misalnya pada sistem purna jual. Seperti driver pada software, pabrik piranti keras dapat mengirim spare-part yang disediakan berupa file untuk dicetak atau diukir dengan printer 3D yang sekarang harganya sekitar 1.700 dollar.

Dibalik sisi positif, pemerintah Amerika (US Department of Homeland Security) prihatin atas kemungkinan proliferasi atau penyebaran tak terkendali pada senjata yang dibuat dengan bantuan printer 3D. Menurut pemberitaan yang dimuat di Fox News, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika melaporan bahwa tidak mungkin untuk menghentikan produksi senjata yang mudah dibuat dengan printer 3D tersebut. Kasus yang dimaksud adalah mengacu pada sebuah proyek “Defense Distributed” pada bulan Mei lalu dengan berbagi file yang dapat diunduh secara daring untuk digunakan mencetak (tepatnya memproduksi) senjata lengkap siap pakai menggunakan sebuah printer 3D. File yang sempat diunduh lebih dari 100.000 kali tersebut, beberapa hari kemudian tidak lagi tersedia secara daring.

Kasus yang sama juga membuat polisi di Australia kurang nyenyak tidurnya. Untuk membuktikan betapa bahaya dari senjata yang beredar Internet itu, dinas kepolisian di negara bagian New South Wales, telah mencoba sendiri membuat senjata “Liberator” tersebut menggunakan printer 3D yang demonya dapat disimak via YouTube. Senjata yang memusingkan ini, dapat dibuat dengan meterial plastik seniali 35 A$, tidak dibubuhi nomor serial sehingga peredarannya tidak dapat dikendalikan. Belum lagi nantinya menjadi masalah bagi penerbangan karena senjata tersebut tidak terdeteksi, baik menggunakan perangkat sinar-X, apalagi dengan metal detector.

InaSAFE: Filipina Adopsi Software Open Source Buatan Indonesia

Prediksi Banjir (Sumber: BNPB)

Prediksi Dampak Banjir DKI (Sumber: BNPB)

Departemen Sain dan Teknologi Filipina (DOST) mengungkapkan rencana untuk mengadopsi InaSAFE (Indonesia Scenario Assessment for Emergencies), yaitu perangkat lunak berbasis open source untuk perkiraan dampak bencana secara cepat yang dikembangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Teknologi mitigasi bencana buatan Indonesia ini, rencananya akan digunakan untuk proyek lembaga Nationwide Operational Assessment of Hazard (NOAH) dalam upayanya untuk meningkatkan perencanaan dan kesiapsiagaan terhadap bencana di wilayah Filipina.

Mengutip pernyataan resmi dari situs DOST, NOAH akan mengadopsi InaSAFE buatan Indonesia karena memiliki banyak kesamaan dengan Filipina, terutama dalam hal topografi dan bencana alam.

Petugas bidang bencana dan manajemen risiko dari Bank Dunia Asia Timur dan Pasifik, Abigail Baca mengatakan bahwa InaSAFE terbukti efektif selama banjir di Jakarta baru-baru ini, dan hal yang sama dapat pula diterapkan di Filipina.

Sementara itu, Dr Alfredo Francisco Mahar Lagmay dari Proyek NOAH mengungkapkan bahwa InaSAFE akan diintegrasikan ke dalam Proyek NOAH untuk melengkapi teknologi yang sudah ada, dan digunakan untuk mengurangi, jika tidak benar-benar mencegah, kerusakan besar yang disebabkan oleh topan kuat seperti badai tropis Washi pada tahun 2011 dan Bopha pada bulan Desember 2012.

Tentang InaSAFE:
INDONESIA SCENARIO ASSESSMENT FOR EMERGENCIES (InaSAFE) adalah perangkat lunak bebas dan sumber terbuka (FOSS) yang menghasilkan skenario realistis terhadap dampak dari bahaya bencana alam, dan dapat digunakan untuk melakukan perencanaan yang lebih baik, kesiapsiagaan dan aktifitas tanggap darurat. Perangkat ini dikembangkan bersama Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) dan World Bank serta meraih penghargaan Rookie of The Year 2012 dari Black Duck.

InaSAFE menyediakan cara sederhana guna menggabungkan data dari ilmuwan, pemerintah daerah dan masyarakat untuk memberikan wawasan ke dalam kemungkinan dampak peristiwa bencana. Perangkat juga mampu melakukan penilaian secara rinci terhadap dampak bencana yang akan terjadi pada sektor-sektor tertentu, misalnya lokasi sekolah dasar dan perkiraan jumlah peserta didik yang terkena Tsunami.

Proyek InaSAFE menggunakan bahasa pemrograman Python dan dibangun di atas proyek Open Source Geographic Information System: QuantumGIS (QGIS) sebagai plugin QGIS. InaSAFE dirancang sebagai platform extensible yang dapat digunakan untuk menilai dampak dari setiap jenis bencana, yang didukung oleh data populasi geografis dari hampir semua geografi. Software Open Source InaSAFE tersedia di GitHub.

Menyambut Kehadiran Mageia 3

Mageia 3 yang telah hadir sejak 19 Mei 2013 membawa Kernel Linux 3.8.13 dan glibc 2.16, sementara Systemd telah digunakan sebagai sistem Init. Sistem berkas Btrfs juga mendapatkan dukungan dan dapat dipasang saat instalasi.

mageia3_bnr_640

Jajaran desktop yang digunakan pada Mageia 3 adalah termasuk KDE 4.10.2, Gnome 3.6.3, Xfce 4.10 dan versi aktual dari LXDE (0.5.5), disamping juga Razor-Qt (0.5.1). Sebagai sebuah alternatif juga disediakan Window Manager lainnya, seperti Enlightenment (e17), Icewm, Fvwm2, Openbox dan Window Maker.

Diantara lebih dari 10.500 paket-paket software yang telah dikompilasi ulang untuk Mageia 3, terdapat serangkaian software untuk produktivitas, pendidikan dan pengembangan seperti LibreOffice 4.0, Steam for Linux, Perl 5.16.3 dan Ruby 1.9,3, Systemd 195 dengan Journald dan RPM 4.11.

GRUB seterusnya digunakan sebagai standar, sementara tersedia GRUB 2 sebagai sebuah opsi yang dapat dipilih saat proses instalasi berlangsung. Mageia 3 juga melakukan pergeseran pada penempatan berkas dari folder /bin, /sbin dan /lib ke /usr seperti halnya yang telah dilakukan pada distro Fedora. Sistem pemadatan berkas yang sekarang digunakan adalah XZ untuk menggantikan LZMA. Masih dalam tahap ujicoba di Mageia 3 adalah dukungan booting dengan UEFI, sementara fitur UEFI Secure boot masih belum didukung.

mageia3_amarok_640

Sekilas tentang Mageia Linux:
Komunitas pengembangan Mageia.org lahir pada tahun 2010 sebagai proyek  nirlaba yang independen yang mendambakan kelanjutan dari pengembangan distribusi Mandriva Linux. Bersama Mageia, pengembangnya tidak perlu lagi ingin memikirkan status keuangan dan keberuntungan perusahan penyokong seperti Mandriva, yang pada saat itu terpaksa merumahkan nyaris semua karyawan termasuk pengembangnya.

Walaupun Mandriva Linux yang secara teknis berada di jajaran terdepan dengan jumlah pengguna yang luas, namun sejak beberapa tahun sebelumnya, jatuh dan bangun dilanda krisis keuangan. Sementara perusahan Mandriva sekarang masih menawarkan layanan dukungan berupa produk komersil seperti Mandriva Pulse, Enterprise IT management system, Mandriva Business Server, training dan konsultasi, Mageia.org sebagai sebuah yayasan pengelola distribusi Mageia, dipimpin oleh dewan yang dipilih secara berkala oleh komunitas, serupa dengan Debian GNU/Linux. Kata “Mageia” yang dipilih, diturunkan dari bahasa Yunani yang berarti “sakti” atau juga “gaib”.

Seperti Debian, Mageia melakukan pemisahan koleksi software, antara yang Free dan yang non-free yang tersimpan di lumbung repositorinya. Mageia resminya menyediakan tiga jenis lumbung repositori dengan software yang dikelompokkan sebagai: Core, Non-free, dan Tainted (tercemar). Core mengandung software berlisensi bebas (FOSS). Non-free menyertakan driver-driver termasuk dari Nvidia dan ATI, dan binari untuk wireless firmwares, termasuk driver closed-source lainnya. Yang disimpan di lumbung Tainted adalah termasuk codec-codec FOSS multimedia yang tercemar, karena di beberapa negara tertentu masih dipermasalahkan dalam hal hak paten atau soal HaKI.

Dalam setiap repositori tersedia empat kelompok software (media) merupakan tahap pengembangan berupa edisi: Rilis (release), Diperbarui (updates), Backports, dan Testing. Diluar lumbung resmi, terdapat banyak repositori lainnya yang disediakan komunitas independen atau dari pihak ketiga. Kendati demikian, semua software tersebut dapat dikelola melalui fitur Software Manager yang ada di Mageia Control Center yang ditata cukup rapi.

Media Mageia 3:
Siklus rilis yang direncanakan Mageia, mulai dari janin sampai dengan lahirnya generasi baru berlangsung selama sembilan bulan, diteruskan masa pemeliharaan atau dukungan penangkalan terhadap kutu selama 18 bulan. Dalam kenyataannya tidak selalu tepat waktu. Setelah versi Mageia 1 dirilis pada bulan June 2011 dengan dukungan sampai December 2012, disusul adiknya Mageia 2 yang lahir pada bulan Mei 2012, dan Mageia 3 yang telah hadir sejak 19 Mei 2013, merilis sembilan jenis media DVD dan CD, baik installer maupun live, terdiri dari:

  • 32bit-DVD-Full_sku-01.450.300.51 (All, Free + NonFree)
  • 32bit-LiveDVD-KDE_sku-01.450.300.52
  • 32bit-LiveDVD-Gnome_sku-01.450.300.53
  • 32bit-LiveCD-KDE_sku-01.450.300.02 (English-only)
  • 32bit-LiveCD-Gnome_sku-01.450.300.03 (English-only)
  • BiArch-CD_sku-01.450.300.41 (dual-arch installer CD, 100% Free)
  • 64bit-DVD-Full_sku-01.450.300.61 (All, Free + NonFree)
  • 64bit-LiveDVD-KDE_sku-01.450.300.62
  • 64bit-LiveDVD-Gnome_sku-01.450.300.63

LKPP dan AOSI Kembangkan Sistem e-Procurement Secara Terbuka

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sepakat menjalin kerja sama dengan Asosiasi Open Source Software (AOSI) untuk membangun sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah “generasi baru” secara terbuka. Bersama sistem yang dibangun secara terbuka, baik dari sisi pemrograman maupun proses bisnisnya, diharapkan tersedia sebuah sistem transparan yang lebih mudah dipantau publik.

aosi_lkpp1_20130520_640

Nota kesepahaman pengembangan SPSE (Sistem Pengadaan Secara Elektronik) v.5 Berbasis Komunitas ditandatangani oleh pimpinan kedua lembaga, ketua LKPP Bapak Agus Rahardjo dan ketua AOSI Ibu Betti Alisjahbana, di Hotel Bidakara Jakarta, Senin (20-05-2013) bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ke 105.

Lewat kerjasama dengan AOSI, ketua LKPP Agus Rahardjo mengatakan, bahwa semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dapat berkontribusi dalam pengembangannya dan melakukan pengawasan terhadap pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah.

Dari sekitar 400 Triliun Rupiah dana yang dibelanjakan pemerintah setiap tahunnya, jumlah pengadaan pemerintah yang diproses menggunakan SPSE pada tahun 2012 baru sekitar 138 Triliun, dan menurut LKPP telah berhasil menyelamatkan pengeluaran pemerintah sebesar 15 Triliun. Pada saat ini baru 571 instansi pemerintah dan BUMN yang menggunakan SPSE, yang nyaris seluruhnya telah memanfaatkan teknologi Open Source, menggunakan sistem operasi Linux (beragam distribusi) kecuali satu server yang menggunakan Solaris. Di lingkungan pemerintahan negara-negara ASEAN, LKPP berhasil dua kali mendapatkan penghargaan dari FutureGov dan terpilih sebagai pemenang di kategori Technology Leadership.

aosi_lkpp2_20130520_640

Kerjasama kedua pihak meliputi pengembangan Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) versi 5, yang rencananya akan diluncurkan pada tahun 2014. Sementara sistem yang ada belum dianggap optimal (mengelektronikkan prosedur manual), SPSE dengan konsep baru ini diharapkan mampu memangkas semua prosedur lama yang kurang efektif, sekaligus membantu peserta lelang meninimalkan biaya pengadaan yang pada ujungnya berdampak positif bagi semua pihak.

Tentang LKPP:
Sebagai sebuah lembaga kebijakan, fokus utama LKPP adalah mengembangkan sistem pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibagi dalam 4 fungsi utama, yaitu (1) menyusun regulasi, (2) mengembangkan SDM pengadaan, (3) mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi serta e-Procurement, dan (4) bimbingan teknis, advokasi, serta bantuan hukum.

Tentang AOSI:
AOSI adalah asosiasi berbadan hukum menghimpun organisasi-organisasi pencinta, penggiat, pengembang, pemakai, pendidik, pelaku bisnis dan semua pendukung Open Source skala nasional yang bekerja sama, bahu membahu membangun sinergi guna mencapai sukses bersama. Diresmikan dan berdiri sejak 30 Juni 2008, AOSI merupakan asosiasi yang sah dan memiliki sejumlah program terencana untuk mendorong pengembangan teknis dan bisnis Open Source di Indonesia. AOSI melibatkan pihak pemerintah membahas program dan regulasi guna meningkatkan akselerasi perkembangan pemanfaatan Open Soure di semua lapisan masyarakat NKRI.

AOSI OpenKnowledge-3: Training Publikasi Majalah Digital

Melanjutkan kegiatan berkala dalam menyediakan materi pelatihan memanfaatkan teknologi informatika, Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) kembali menyelengarakan training Open Knowledge yang membahas cara “Publikasi Majalah Digital”.

Pelatihan bulan Mei ini ditargetkan bagi mereka yang ingin memasuki dunia publikasi digital untuk merealisasikan idea sebuah materi presentasi digital. Melalui training ini, peserta dapat belajar langsung dari pakar di bidang publikasi digital, sambil melakukan sendiri proses praktek pembuatan publikasi digital profesional mulai dari nol. Pada akhir pelatihan peserta akan mampu membuat sebuah Publikasi Digital menggunakan teknologi termutakhir yang ada.

Adapun jadwal “Publikasi Majalah Digital“:

  • Klik PerbesarHari Rabu 29 Mei 2013
  • Pukul 08:00 – 16:00 wib

Pembawa Materi:

  • Bapak Rachman Ibrahim dari PT JakSoft

Lokasi Training :

  • Menara MTH Lantai 6,
  • Jln. MT. Haryono Kav. 23
  • Jakarta Selatan.

Rincian Kegiatan Training :

  • 08:00 – 09:00 Pendaftaran
  • 09:00 – 10:00 Pengenalan Publikasi Digital, Pengenalan HTML 5 dan Pengenalan Platform Publikasi Digital
  • 10:00 – 10:10 Coffe Break
  • 10:10 – 12:00
    1. Persiapan:
    - Instalasi Perangkat Lunak yang Dibutuhkan
    - Pengenal Fitur
    2. Tanya Jawab
  • 12:00 – 13:00 Ishoma
  • 13:00 – 15:00 Sesi Sore :
    1. Menyusun materi publikasi (yang sudah dipersiapkan sebelumnya)
    2. Menggunakan perangkat lunak untuk membuat aplikasi majalah digital
    - Memasukkan materi publikasi
    - Melakukan publikasi
    - Mengelola publikasi
  • 15:00 – 15:30 Coffe Break
  • 15:30 – 16:00 Menggunakan Android Market dan myedisi.com
  • 16:00 – 16:10 Pengisian from feedback

Siapa yang perlu hadir :
Semua kalangan yang ingin atau telah berkecimpung di dunia publikasi digital, atau memerlukan skill membuat publikasi untuk dipresentasikan secara digital (Multimedia).

Agar mendapatkan hasil yang maksimal sebaiknya peserta training memiliki pengetahuan sebagai berikut :

  • Tahu dasar-dasar pengoprasian aplikasi komputer
  • Berpengalaman mengoperasikan web browser
  • Bisa mengoperasikan Adobe InDesign (tidak wajib)

Biaya Training Rp. 500.000, khusus anggota AOSI diberikan diskon 30%
Pembayaran paling lambat 1 hari sebelum acara atau Pembayaran On The Spot

Pendaftaran di http://aosi.or.id/pendaftaran/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 62 pengikut lainnya.